MENGENAL TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG-BULUSARAUNG

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung adalah taman nasional yang terletak di Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Maros-Pangkep), Provinsi Sulawesi Selatan. Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung atau dapat disingkat menjadi Taman Nasional Babul memiliki luas 43,750 hektar atau kurang lebih 60% luas kota Jakarta. Kawasan konservasi TN Babul memiliki keanekaragaman hayati yang sangat melimpah. Tercatat dalam data tahun 2016 dari Balai TN Babul terdapat 1449 aneka spesies flora dan fauna. Selain itu TN Babul memiliki bentangalam karst terbesar kedua di dunia. Kurang lebih 75% total kawasan atau lebih dari 30.000 hektar merupakan zona karst. Batugamping yang sedikit demi sedikit larut membentuk ruang-ruang kosong di dalam tubuh karst yang membentuk gua-gua. Tercatat terdapat 257 gua dimana 216 gua merupakan gua alam dan 41 merupakan gua prasejarah.

Sejarah penelitian mengenai kekayaan alam yang terdapat di Sulawesi Selatan berawal dari ekpedisi seorang naturalis berkebangsaan Inggris, Alfred Russel Wallace tahun 1857. Kekayaan biogeografi yang terdapat di daerah Bantimurung-Bulusaraung dipublikasikan dalam bukunya yang berjudul The Malay Archipelago pada tahun 1869. Di tahun 1902-1903 Sarasin bersaudara yang merupakan naturalis berkebangsaan Swiss juga melakukan penelitian di daerah tersebut yang dipublikasikan dalam buku mereka yang berjudul Reisen in Celebes: Ausgefht in deh Jahren.

Hasil penelitian Wallace dan Sarasin bersaudara menjadi titik awal dari usaha untuk mengkonservasi biogeografi daerah Kabupaten Maros tersebut. Usaha tersebut dimulai dari pemerintah Indonesia di tahun 1970-1980 membagi Kawasan karst Maros-Pangkep menjadi 5 kawasan konservasi yaitu, TWA. Bantimurung, TWA. Gua Pattunuang, CA. Bantimurung, CA. Karaenta dan CA. Bulusaraung dengan total luas lahan konservasi ± 11.906,9 ha. Sampai tahun 2001 terdapat sejumlah rekomendasi dan evaluasi bertahap dari komunitas internasional dari pemerintah. Penetapan konservasi area Bantimurung-Bulusaraung menjadi lebih dimantapkan serta diperluas dari zona konservasi tahun 1980 dengan kebijakan alih fungsi hutan menjadi kawasan konservasi pada bulan Oktober 2004 berdasarkan SK.398/Menhut-II/200 yang dibagi menjadi daerah Cagar Alam, Taman Wisata Alam, Hutan Lindung, Hutan produksi Terbatas dan Hutan Produksi Tetap. Kemudian pada tahun 2010 Menteri Kehutanan menerbitkan SK.717/Menhut-II/2010 dengan menetapkan Balai TN Babul sebagai Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK).

Secara geologi kawasan Taman Nasional Bantimurung-Balasaurung didominasi oleh Batugamping Formasi Tonasa yang berumur Eosen-Miosen Tengah. Selain itu juga terdapat Batuan vulkanik dari Formasi Camba yang berumur Oligosen dan Batuan sedimen silisiklastik dari Formasi Malawa yang berumur Miosen Tengah. Daerah Taman Nasional Babul sangat dekat dengan zona Kompleks Melange Bantimala yang terdapat di utara Kawasan tersebut. Dengan munculnya bentangalam karst terbesar kedua di dunia di daerah Sulawesi Selatan, hal tersebut menjadi misteri tersendiri bagi para geolog bagaimana sejarah geologi daerah Maros-Pangkep mengalami pembentukan batugamping yang sedimikian besarnya.

Pembentukan bentangalam karst tersebut merupakan hasil dari proses karstifikasi yang umum terjadi pada batugamping. Zona karst pada Taman Nasional Babul banyak membentuk gua-gua baik yang bersifat vertikal maupun horizontal. Gua Leang Pute menjadi gua vertikal terdalam dengan kedalaman -263 m dan gua Salukkang Kallang menjadi gua horizontal terpanjang dengan panjang 12.463 m.

Posisi geografis zona karst Maros-Pangkep yang terdapat di daerah tropis menjadikan Kawasan ini memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat berlimpah dan eksklusif. Hasil penelitian tahun 2016 menunjukkan Taman Nasional Babul memiliki 1449 spesies flora dan fauna, diantaranya adalah 43 jenis Ficus yang menjadi spesies kunci TN Babul, 116 anggrek alam dengan 11 diantaranya bersifat endemik di sulawesi, 33 jenis mamalia, 30 jenis reptil, 154 jenis burung, 17 jenis amfibi, 331 jenis serangga, 23 jenis ikan, serta 550 jenis flora dan 152 jenis fauna lainnya.

Beberapa jenis flora dan fauna yang khas dan endemik yang terdapat di TN Babul seperti Bintangur (Calophyllum sp.), Beringin (Ficus spp.), Nyato (Palaquium obtusifolium), Kayu hitam (Diospyros celebica), Macaca maura, kuskus sulawesi (Strigocuscus celebensis) dan Musang sulawesi (Macrogolidia mussenbraecki) serta 240 spesies kupu-kupu. Bahkan Balai Taman Nasional Babul memiliki sejumlah fasilitas yang berfungsi untuk pelestarian, pendidikan dan wisata yang khusus bagi kupu-kupu. Sejak tahun 2016 penangkaran kupu-kupu telah dilakukan pada 21 spesies dengan 4 spesies kupu-kupu yang dilindungi.

Selain Taman Nasional Bantimurung-Balaraung masih terdapat daerah-daerah lain yang memiliki kondisi biogeografi yang khas dimana hal ini menjadikan Indonesia sebagai tempat yang tidak hanya memiliki keunikan tersendiri tidak hanya dari kondisi geologinya tetapi juga keanekaragaman hayati yang melimpah yang perlu kita jaga dan lestari.

 

Sumber gambar: www.cifor.com

Sumber data: tn-babul.org

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0