Memahami Potensi Gempa Megathrust dan Langkah Mitigasinya di Jakarta

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Bermula dari acara sarasehan yang digelar oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan Pemprov DKI Jakarta mengenai kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa, kabar akan terjadinya gempa di Jakarta kemudian merebak luas. Tersebar kabar bahwa akan terjadi gempa kuat M 8,7 di megathrust Sunda.

Menanggapi hal ini, beberapa pakar geologi dan pejabat terkait telah menjelaskan dan meluruskan beberapa hal, di antaranya adalah Hary Tirto Djatmika, Kepala Humas BMKG, yang menyatakan bahwa informasi tentang gempa di Jakarta tersebut mengandung ketidakpastian, karena waktu terjadinya gempa masih belum bisa diprediksi. pihak BMKG dan Pemprov DKI mengadakan sarasehan untuk mendiskusikan langkah-langkah konkrit untuk mengurangi risiko kerugian ekonomi dan korban jiwa seandainya gempa benar-benar terjadi (Tirto.id, 05 Maret 2018).

Sementara itu, Andang Bachtiar, penasehat Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) memaparkan, “Jakarta memang tidak benar-benar aman dari potensi ancaman gempa dan tsunami. Tapi gempa M 8,7 tidak akan terjadi langsung di bawah Jakarta. Gempa besar tersebut mungkin berasal dari megathrust di barat Selat Sunda atau selatan Pulau Jawa. Kota Jakarta tidak punya potensi untuk jadi episentrum gempa 8,7 M tersebut, namun dapat terkena imbas dari rambatan gelombang gempa dan tsunami.” (Rmol.co, 03 Maret 2018).

Gempa Megathrust Sunda

Megathrust sendiri adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan kontak antara permukaan dua lempeng yang saling bertumbukan pada zona subduksi. Kontak tersebut berupa patahan naik yang merupakan tempat terjadinya gempa-gempa besar di dunia. Sejak 1900, gempa besar yang mendekati M 9 selalu terjadi pada megathrust dan tidak dijumpai pada tipe struktur lain.

Dari selatan Myanmar, patahan megathrust Sunda membentang ke selatan di barat Sumatra lalu melengkung ke selatan Jawa dan Bali. Patahan yang terbentuk dari pertemuan lempeng Eurasia dengan lempeng Indo-Australia ini memiliki panjang sekitar 5500 km (Sieh, 2007).

 

Tataan tektonik megathrust Sunda. © Wikipedia

 

Terdapat setidaknya tiga lokasi di sepanjang zona patahan tersebut yang berpotensi menjadi sumber gempa besar, menurut Peta Sumber Gempa Nasional 2017 yang diterbitkan Pusat Studi Gempa Nasional. Tiga lokasi tersebut adalah wilayah perairan Selat Sunda, wilayah selatan perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, serta segmen Jawa Timur-Bali (Tirto.id, 05 Maret 2018).

Rekaman seismik yang mencatat gempa dengan magnitudo 7 sejak tahun 1900 menunjukkan adanya seismic gap pada tiga lokasi tersebut. Seismic gap adalah ketiadaan aktivitas seismik pada suatu segmen patahan pada jangka waktu yang lama, sedangkan aktivitas serupa banyak terjadi pada segmen lain di dalam jalur tektonik yang sama.

Sebuah teori mengatakan bahwa dalam jarak waktu yang lama, pergeseran segmen-segmen dalam patahan akan setara satu dengan yang lain. Apabila suatu segmen mengalami gap seismik, maka segmen tersebut lebih mungkin akan bergerak dalam waktu dekat dibanding segmen lain.

Seismic gap di area selatan Jawa Barat tampak di rekaman kejadian gempa tahun 1973-2009. © BNPB/ Sutopo Purwo Nugroho.

 

Namun, belum ada yang bisa memastikan kapan gempa tersebutkan terjadi. Danny Hilman, peneliti gempa dan tsunami dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menegaskan bahwa zona potensi kejadian, sumber gempa dan besar maksimal magnitudo gempa, adalah hal yang dapat diprediksi secara ilmiah, namun tidak dengan waktu pasti kapan terjadinya gempa.

Danny Hilman, seperti dimuat di laman geologi.co.id beberapa saat setelah topik yang sama ramai diperbincangkan pada tahun 2012, memaparkan pentingnya mengetahui potensi gempa tersebut agar pihak-pihak terkait dapat mempersiapkan kemungkinan terburuk. Upaya mitigasi yang melibatkan pemerintah dan masyarakat terdampak sangat diperlukan untuk mengurangi risiko kerugian ekonomi dan korban jiwa.

Menurut Danny Hilman, Jakarta yang relatif jauh dari zona selatan Jawa juga dapat terguncang kuat karena faktor kondisi tanahnya yang lunak dan batuan dasar yang dalam sehingga menjadi penguat getaran dari gelombang gempa (Kompas.com, 23 Januari 2018).

Meski demikian, pihaknya menyayangkan jika kemudian hal itu dipakai untuk membuat kabar bohong yang bertujuan untuk menakut-nakuti masyarakat.

Langkah Mitigasi

Gempa bumi di Indonesia bukanlah hal yang jarang terjadi. Beberapa gempa besar berkali-kali mengakibatkan kerusakan dan korban jiwa. Penduduk Indonesia yang tinggal di zona rentan gempa bumi memang tidak dapat mencegah terjadinya gempa atau memastikan kapan gempa akan terjadi, namun kesiapsiagaan jika sewaktu-waktu terjadi gempa akan dapat menghindarkan dari kerugian yang besar.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menekankan pentingnya edukasi publik dan gladi evakuasi secara rutin dengan pembuatan rencana kontijensi terpadu antarlembaga. Menurutnya, sosialisasi akan membuat masyarakat lebih siap dan tanggap untuk menyelamatkan diri saat terjadi gempa.

“Kesiapan menghadapi bencana telah terbukti di Jepang dapat memperkecil risiko jumlah korban dan kerugian. Upaya mitigasi gempa bumi harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan komprehensif,” Ujar Dwikorita seperti dilansir oleh Koran Jakarta.

Selain itu, pihaknya juga menyarankan agar Pemprov DKI memperhatikan tentang bangunan. Ia mengingatkan pentingnya regulasi yang mengatur keberadaan jalur evakuasi dan tempat berlindung. Pemprov juga sebaiknya segera melakukan evaluasi terhadap daya tahan bangunan terhadap guncangan gempa.

 

(Hafiz Fatah)

 

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0