Longsor Brebes dari Sudut Pandang Geologi

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0
Lokasi terjadinya tanah longsor di Desa Pasirpanjang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes. Foto satelit: Google Map

 

Pagi yang cerah berubah menjadi tragedi bagi para petani dan penduduk Desa Pasirpanjang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes. Mereka belum lama memulai aktivitas di sawah ketika kemudian suara gemuruh terdengar, diikuti runtuhan tanah yang bergerak dari atas perbukitan. Tanah longsor yang terjadi pada Jumat (23/02) lalu ini mengakibatkan 7 korban meninggal, 13 masih menghilang, dan belasan luka-luka.

Tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Badan SAR, dan BPBD segera bergerak untuk mencari korban hilang dan memantau keadaan. Tanah yang masih bergerak dan kekhawatiran akan terjaddi longsor susulan menyulitkan kinerja tim gabungan. Sementara korban terluka telah dirawat di puskesmas terdekat. (Kompas, 23 Februari 2018).

Melalui akun twitternya, Kepala Pusat Data Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengunggah video drone yang memperlihatkan kondisi terkini daerah terdampak. Pada video tersebut, terlihat bahwa material longsor telah meluncur nisbi jauh dari sumber asalnya, membuat semacam alur kanal sepanjang lembah yang dilaluinya, dan kemudian menyebar luas menyerupai bentuk kipas setelah keluar dari cepitan lereng.

Sutopo memberikan keterangan yang menyertai video tersebut,” Longsor di Salem Brebes tidak ada kaitan dengan ilegal logging, deforestasi dan alih fungsi lahan. Lokasi longsor adalah hutan pinus lebat. Sesuai peruntukannya. Hutan yang bagus saja bisa longsor. Apalagi jika pegunungan tersebut gundul dan minin vegetasinya. Akan mudah longsor.”

Sutopo menekankan bahaya longsor tetap ada meski tutupan lahan berupa hutan. Masih ada faktor lain yaitu jenis tanah atau batuan, curah hujan, dan kemiringan lereng.

Desa Pasirpanjang terletak di kaki pegunungan yang tersusun oleh batuan breksi andesit Formasi Tapak, hasil letusan gunungapi pada zaman Tersier (Kastowo, 1975). Batuan ini dapat terbentuk dari bagian luar lava yang membeku, atau proses pengendapan dari rombakan andesit yang lebih tua. Breksi Andesit dan batuan gunungapi pada umumnya akan membentuk tanah tebal setelah mengalami pelapukan. Komposisi tanah lapukan tersebut didominasi lempung yang berasal dari feldspar yang terubah.

Formasi batuan seperti ini sangat rentan terhadap longsor, dan persebarannya luas di Pulau Jawa yang telah menjadi rumah bagi aktivitas gunungapi sejak Oligosen.

Mengacu pada video dan foto yang tersebar di internet, Dave Petley, peneliti di University of Sheffield, Inggris, berpendapat bahwa longsor termasuk jenis aliran, terjadi pada tanah regolit tebal dan tinggi kandungan air. Karakter tanah demikian menyebabkan material tanah bersifat cenderung encer dan mampu bergerak jauh. Ia memperkirakan material longsoran juga menggerus dan menyapu badan tanah di sepanjang jalurnya sehingga menambah besar volum.

 

Hasil pengamatan sementara tim dari Badan Geologi Kementerian ESDM juga menyatakan kemungkinan besar penyebab gerakan tanah adalah faktor geologi dan cuaca. Ditemukan di lapangan keberadaan tanah lapukan yang telah terubah menjadi lempung dan pasir, juga batuan napal di bagian bawah yang berperan sebagai bidang gelincir.

Hujan yang terus turun dalam sepekan dan menambah beban setelah meresap ke dalam tanah, kemudian memicu longsor. (Kompas, 25 Februari 2018)

Waspada Longsor dan Banjir

Hampir bersamaan dengan kejadian d Brebes, longsor juga melanda Desa Jingkang, Kecamatan Karangjambu, Purbalingga dan menyebabkan empat korban meninggal pada Kamis (22/2).

Kedua peristiwa ini menambah panjang daftar kelam tanah longsor di Indonesia. Demikian pula ketika beberapa waktu yang lalu terjadi longsor di Bogor. Kondisi ini mengingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan pada potensi bencana di sekitar kita.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengimbau masyarakat mewaspadai hujan lebat yang akan terjadi beberapa hari ke depan guna mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk.

 

Peringatan waspada dari BMKG

 

 

 

(Hafiz Fatah)

 

 

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0