Penurunan Muka Tanah yang Mengancam Jakarta

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Ilustrasi: Banjir di Jakarta. (c) Supri/Reuters

Seiring perkembangan pesat Jakarta sebagai daerah urban, masalah lingkungan menjadi salah satu problem pelik yang dihadapi masyarakat dan pemerintah ibukota. Banjir dan rob di kawasan utara Jakarta yang disebabkan penurunan muka tanah dan kenaikan muka air laut menjadi ancaman yang meski perlahan namun dampaknya semakin besar dari waktu ke waktu.

Penurunan muka tanah di Jakarta telah menjadi sebuah fenomena yang menarik perhatian pakar sejak awal dekade 1990-an. Tanda-tanda subsidensi tersebut dapat teramati dari beberapa hal di antaranya: keretakan bangunan atau jalan, perubahan kanal sungai, saluran air alami yang mengering, meluasnya kawasan terdampak banjir, kegagalan fungsi sistem drainase, dan semakin parahnya air laut meluap ke darat.

Untuk memantau muka tanah di Jakarta, digunakan beberapa teknik survei geodetik; survei levelling, GPS, dan teknik InSAR.

Hasil survei sejak 1974 hingga 2010 menunjukkan adanya variasi subsidensi di titik-titik yang berbeda di Jakarta. Secara umum taraf penurunan sekitar 1-15 cm/tahun, namun di waktu dan tempat tertentu ada yang mencapai 20-28 cm/tahun. Sementara itu muka air laut meningkat 0,1-2,2 m/tahun. Reuters mencatat, angka penurunan tanah Jakarta sejak tiga dekade terakhir ini merupakan tingkat subsiden terburuk dibanding kota-kota pesisir lain di Asia Tenggara seperti Bangkok, Manila, dan Ho Chi Minh City.

Fenomena ini tak terlepas dari kemajuan ibukota sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan yang menjadi tempat tinggal lebih dari 9 juta penduduk, menurut sensus penduduk 2010. Ketersediaan infrastuktur terbaik dan dekatnya akses ke pemegang kebijakan menghangatkan iklim investasi yang pada akhirnya mengundang tenaga kerja untuk menetap di Jakarta dan wilayah sekitarnya.

Laju urbanisasi kemudian menimbulkan faktor turunan yang menjadi penyebab langsung turunnya muka tanah Jakarta. Merujuk pada makalah Hasanudin Z. Abidin dkk, yang berjudul Land Subsidence of Jakarta (Indonesia) and Its Relation with  Urban Development (2011), subsidensi Jakarta terjadi akibat ekstraksi berlebihan pada air tanah dan beban dari konstruksi yang dibangun di atasnya.

Pemompaan Berlebih Air Tanah

Penelitian Abidin dengan tim dari Institut Teknologi Bandung tersebut mengemukakan bahwa taraf penurunan muka tanah mengiringi penurunan level piezometrik air tanah. Angka subsidensi tertinggi terjadi di tempat yang muka air tanahnya turun secara signifikan.

Hal ini terjadi karena proses kompaksi material penyusun tanah setelah ditinggalkan air pori, terutama pada lapisan lempung yang bersifat semi kedap (akuitard). Butiran halus lempung pada umumnya berbentuk menyerupai piring. Kandungan air  pada lapisan lempung dapat meratakan tekanan kompaksi yang diterima. Hubungan antar partikel lempung pada kondisi basah ini mirip dengan piring yang ditaruh sekenanya di dalam sebuah ember.

Dengan hilangnya air pori dari rongga antar partikel lempung akibat susutnya air tanah, maka rongga tersebut kosong. Tekanan kompaksi yang kini diterima seluruhnya oleh butiran lempung membuatnya terpadatkan sedemikian rupa, menyerupai piring-piring yang tertata rapi. Ketebalan lapisan penyusun tanah berkurang dan terjadilah penurunan muka tanah.

 

Di Jakarta, pemompaan air tanah dilakukan untuk memenuhi 64% kebutuhan air bersih untuk industri dan rumah tangga. Tingginya volume air tanah yang disedot keluar tidak dapat diimbangi volume air yang masuk mengisi akuifer karena rendahnya daerah resapan yang tersedia di seantero kota. Kawasan hijau yang merupakan daerah resapan telah sangat berkurang luasnya, dari sekitar 35% area Jakarta pada 1960, menjadi tinggal 9% pada 2005 (Djakapermana, 2008).

Faktor lain yang mempercepat penurunan muka tanah di Jakarta adalah adanya beban dari konstruksi gedung-gedung yang meningkatkan tekanan kompaksi lapisan tanah penyusun kota. Peneliti Geoteknologi Lembaga Penelitian Indonesia menyatakan secara geologi, material penyusun Jakarta bersifat lembek produk endapan laut dan delta.

Semakin Rentan Banjir

Turunnya elevasi tanah dengan tingkat berbeda mengakibatkan kacaunya sistem drainase. Kanal dan saluran air dirancang dengan menyesuaikan sifat air yang bergerak ke tempat lebih rendah. Perubahan tinggi rendah tanah di beberapa tempat tentu menyebabkan kegagalan sistem ini. Air akan lebih sering meluap membanjiri kota sebelum sempat mencapai muara.

Menanggapi masalah ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti berpendapat Jakarta saat ini sangat mengandalkan sistem manajemen hidrolik yang tak memperhatikan faktor ekologi. Tak ada upaya penyelesaian masalah penurunan muka tanah yang menyeluruh dan berkesinambungan dari hulu hingga hilir.

Yang terjadi justru daerah tangkapan air menjadi bangunan sehingga air kehilangan tempat parkir. Sungai-sungai pun diluruskan sehingga air dari hulu makin cepat sampai ke hilir. Akibatnya, sungai tak lagi menampung air meski curah hujan stabil.

”Jakarta itu dulu desainnya memang untuk dibanjiri (daerah tangkapan air), tetapi dalam perkembangannya kanal dan reservoir banyak ditutup dan sungai diluruskan. Tidak ada jalan lain, hulu dan hilir harus membuat sesuatu yang berkelanjutan karena kita tidak bisa melawan kehendak alam,” ujar Susi, seperti dikutip Kompas, 18 Maret 2016.

Sementara itu Kepala Subbidang Pengembangan Usaha, Ketenagakerjaan, Pariwisata, dan Kebudayaan Bappeda DKI Deftrianov menjelaskan, Pemprov DKI berusaha menangani penurunan muka tanah dengan meminimalisir penyedotan air tanah dan menyediakan air perpipaan untuk warga. Persediaan air bersih akan diambil dari beberapa waduk seperti Waduk Jatiluhur dan Waduk Ciawi. Air limbah pabrik dan rumah tangga pun akan didaur ulang untuk memperbaiki kualitas air.

 

(Hafiz Fatah)

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0