Reposisi Tambang di Masa Depan: Urban Mining atau Classical Mining?

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0
Karyawan menyortir material dalam pengolahan limbah elektronik di California. (c) David Paul Morris / Bloomberg.

 

Taiwan adalah negara kecil di barat Tiongkok, namun pada abad ke-21 ini telah menguatkan industri teknologi mereka dengan masif. Kunci dari kebangkitan Taiwan adalah penerapan urban mining,  hal baru yang mungkin ke depannya menggantikan classical mining. Urban mining adalah pertambangan yang memanfaatkan sampah elektronik sebagai ore atau bijihnya dan mendaur ulang sampah tersebut melalui smelter untuk menghasilkan ingot logam, berbeda dengan classical mining yang menghasilkan logam dari batuan.

Secara geologi, Taiwan tidak mempunyai sumber daya tambang yang cukup ekonomis. Namun mereka mampu memanfaatkan  40.000 ton sampah elektronik yang terbuang setiap tahun.  Menurut Wu Sheng-Cheng, Kepala Departemen Pengelolaan Limbah Elektronik, 40% dari limbah tersebut diolah dan menghasilkan Logam Tanah Jarang ( LTJ ), emas, dan tembaga. Mineral tersebut misalnya didapat dari motherboard komputer yang di dalamnya mengandung emas dan tembaga. Mineral lain seperti timbal, tembaga, dan besi yang dapat ditemukan pada bekas pipa, tiang-tiang, kabel, dan besi pancang.

Tambang Kota atau Urban Mining tersebut bernilai US$ 448,8 Juta pada tahun 2016. Hasil dari Urban Mining tersebut langsung diolah kembali oleh perusahaan elektronik milik Taiwan seperti Acer, Asus, Foxconn, dan Realtek. Perusahaan tersebut sangat familiar dikenal bagi masyarakat Indonesia dan dunia sebagai penghasil perangkat elektronik seperti laptop dan telepon genggam.

Mengapa Urban Mining Adalah Masa Depan Dunia Pertambangan

Dunia pertambangan mungkin ke depannya akan mengalami perubahan ke arah urban mining dibanding dengan classical mining dalam pertambangan mineral. Faktor pertama adalah sumber daya geologi pada beberapa mineral yang lama-lama akan habis, sehingga untuk mendapatkan mineral tersebut peradaban manusia mau tak mau akan mengandalkan urban mining. Sebagai contoh adalah mineral LTJ seperti skandium yang dipakai untuk komponen pesawat terbang, yttrium dan cerium yang digunakan pada tabung televisi untuk menghasilkan warna merah,  dan neodymium bersama yttrium membentuk ND: YAG ( Neodymium-Doped Yttrium Alumunium Garnet ) sebagai sarana operasi kanker kulit.

Alasan kedua adalah kadar. Kadar dalam bijih emas pada tambang yang bernilai ekonomis adalah sekitar 8g-10g per ton. Data yang dihimpun dari Departemen Pengelolaan Limbah Elektronik pada sampah elektronik kadar emas bisa mencapai 180g-480g per ton. Itu pun hanya dihasilkan oleh telepon genggam/handphone, belum mencakup dari sampah lainnya seperti kabel, motherboard, dll.

Terakhir, tambang konvensional tidak bisa memenuhi permintaan pada industri elektronik, sehingga urban mining menjawab permintaan industri elektronik tersebut. Di dunia, saat ini terdapat 3 miliar kaum menengah sehingga kebutuhannya akan barang elektronik seperti telepon genggam, kulkas, dan pendingin ruangan pun akan meningkat. Industri elektronik membutuhkan material-material yang banyak, akan tetapi sumber daya pertambangan di alam semakin menipis sehingga urban mining akan memenuhi kebutuhan tersebut bersama dengan tambang konvensional.

Penerapan Urban Mining di Indonesia

Peran industri pertambangan di Indonesia sangatlah besar. Selain sebagai salah satu pemasok utama pendapatan negara, industri pertambangan juga agen perubahan dalam roda ekonomi daerah terpencil. Berlakunya Undang-Undang Minerba No. 4 Tahun 2009 membuat pendapatan negara bertambah dengan kewajibannya perusahaan tambang membangun smelter sehingga nilai jual mineral semakin bertambah. Tetapi pernahkah terbesit pertanyaan jika cadangan mineral tersebut sudah habis, mau diapakan smelter tersebut?.

Data yang dirilis dari The Global E-Waste Monitor 2014 menyatakan Indonesia menghasilkan 745.000 ton limbah elektronik dan Indonesia tidak mempunyai industri pengolahan limbah elektronik tersebut dalam bentuk urban mining. Data yang dirilis perusahaan riset GFK menyatakan pada 2015 perputaran telepon genggam di Indonesia sebanyak 33 juta ton dan akan berpotensi menjadi sampah elektronik yang melimpah di masa depan.

Hasil penyortiran material dari elektronik bekas di Jepang. (c) Yuriko Nakao/ REUTERS

Berat telepon genggam rata-rata sebesar 150 gram. Itu berarti Indonesia akan menghasilkan sampah elektronik dari telepon genggam sebanyak 4,95 miliar ton. Dari data yang dilansir perusahaan Jepang, Yokohama Metal Co Ltd, minimal 1 ton telepon genggam bekas bisa menghasilkan 150 gram emas. Jika dikalkulasikan secara kasar maka potensi emas dari Urban Mining di Indonesia yang menggunakan telepon genggam sebagai bijihnya berpotensi menghasilkan 742,5 ton emas. Jauh lebih besar dibandingkan dengan produksi PT Freeport Indonesia di tahun 2016 yang ‘hanya’ menghasilkan 30 ton emas.

Jika berkaca pada perhitungan kasar di atas, sudah saatnya Indonesia mengalihkan perhatiannya kepada urban mining. Indonesia sebagai negara yang kaya akan potensi pertambangan mineralnya memiliki banyak perusahaan pertambangan mineral, yang tentu banyak menggunakan smelter dalam produksinya. Jika mengacu kepada keberlanjutan pembangunan sudah seharusnya perusahaan tambang di Indonesia mengalihkan smelter yang mereka miliki menjadi pengolahan sampah elektronik sebagai bagian kegiatan pasca tambang perusahaan-perusahaan tersebut.

(Penulis: M. Dzaki Gunawan)

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0