Afghanistan, Geografi yang Tidak Tertaklukkan

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Geografi Afghanistan didominasi oleh pegunungan dan lembahan memanjang. Kondisi tersebut terbentuk dari sejarah geologi kompleks yang melibatkan dua periode orogenesis. Orogenesis pertama atau disebut juga dengan orogenesis Cimmeria terjadi di periode Jura sampai Kapur yang membawa terrane bagian selatan Afghanistan bergabung menjadi bagian dari Lempeng Laurasia.

Orogenesis yang kedua atau disebut juga orogenesis Himalaya terjadi di periode Kenozoikum Awal dan masih berlangsung sampai saat ini. Orogenesis Himalaya menghasilkan perubahan kondisi geografi yang sangat dramatis di bagian selatan Lempeng Eurasia termasuk yang terjadi di daerah Afghanistan hingga terbentuk pegunungan Hindu Kush yang merupakan ekstensi bagian barat dari pegunungan Himalaya.

Secara historis, daerah Afghanistan menjadi tempat persimpangan dari kontak antarkerajaan-kerajaan besar yang sudah terjadi selama beberapa ribu tahun. Sulitnya mempertahankan pengaruh kekuasaan di daerah tersebut menjadikan Afghanistan mendapatkan julukan sebagai tempat kuburan kerajaan-kerajaan.

Afghanistan menjadi daerah yang banyak diperebutkan bangsa-bangsa karena memiliki jalur perdagangan alternatif selain jalur sutra dan memiliki sumber daya alam yang kaya, di antaranya adalah besi, tembaga, dan emas. Umumnya koridor-koridor utama yang menjadi jalur perdagangan merupakan zona-zona sesar mendatar yang berarah relatif barat-timur atau barat daya-timur laut.

Di abad ke-19, terjadi perebutan kekuasaan antara Kerajaan Rusia dan Kerajaan Inggris di wilayah Asia Tengah, termasuk di dalamnya daerah Afghanistan. Kompetisi antara kedua kerajaan besar tersebut dinamakan “The Great Game”. Kerajaan Rusia berusaha untuk mendapatkan kontrol Afghanistan sebagai jalur menuju Teluk Persia dalam usahanya untuk membuat pelabuhan dagang di daerah Samudera Hindia sebagai jalur ekonomi baru. Hal ini menjadi sesuatu yang dianggap mengancam eksistensi pengaruh Kerajaan Inggris di daerah tersebut. Akhir dari perseteruan tersebut berakhir dengan Afghanistan menjadi zona buffer yang menjadi penyebab utama batas-batas negara Afghanistan terbentuk.

Di masa perang dingin, Afghanistan menjadi daerah yang diperebutkan antara pengaruh blok barat dan blok timur. Uni Soviet berusaha untuk menjadikan Afghanistan bagian dari orbit politik komunisme yang merupakan strategi geopolitik dalam melemahkan pengaruh kapitalisme serta membendung revolusi Islam yang sedang terjadi di Iran.

Usaha kontrol secara langsung dengan menurunkan pasukan ke Afghanistan di tahun 1979 menimbulkan terjadinya perang Soviet-Afghan yang berlangsung selama sembilan tahun sampai 1989. Invasi militer tersebut memicu negara-negara blok barat dan negara-negara Islam untuk mendukung para Mujahidin. Strategi militer yang dilakukan Uni Soviet adalah dengan melakukan penguasaan cepat terhadap daerah-daerah urban, jalan-jalan utama dan jalur-jalur komunikasi, pembangunan infrastruktur dan usaha modernisasi sebagai dukungan kuat terhadap pemerintah pusat, pelemahan terhadap jalur-jalur perbekalan musuh dan dukungan masyarakat lokal, serta optimalisasi serangan-serangan udara. Dengan strategi seperti ini diharapkan perang dapat berakhir dalam waktu kurang dari dua tahun.

Namun, kenyataan yang terjadi adalah pengaruh para Mujahidin di dalam kehidupan masyarakat Afghanistan tetap kuat sehingga pemerintah pusat yang pro terhadap komunisme tidak mendapatkan legitimasi kekuasaan yang kuat. Dengan waktu peperangan yang terlalu panjang, Uni Soviet mengalami atrisi perang. Sumber daya yang terkuras sudah terlalu besar, memberikan kerugian yang signifikan. Dengan mundurnya pasukan Beruang Merah di tahun 1989, Afghanistan menjadi Vietnam-nya Uni Soviet yang berkontribusi dalam pelemahan dan jatuhnya Uni Soviet sampai berujung pada berakhirnya perang dingin.

Qala e Sabzi, Afghanistan. (c) hiveminer.com

 

Dengan memiliki daerah yang bergunung-gunung, perkembangan daerah-daerah urban maupun rural Afghanistan tidak banyak mengalami perkembangan sehingga hanya mampu mengakomodasi sejumlah kecil kelompok manusia. Hal ini berimplikasi terhadap tingkat kemampuan kendali terhadap wilayah tersebut. Kondisi geografi dan tektonik aktif di Afghanistan membuat pembangunan infrastruktur berjalan sangat lambat, dipersulit lagi oleh konflik berkepanjangan.

Kesulitan dalam pembangunan infrastruktur menjadi kendala utama dalam mengupayakan kestabilan situasi serta penyebaran lingkaran pengaruh pemerintah pusat. Infrastruktur merupakan aspek yang sangat krusial dalam menjadi jalan konektivitas antara daerah-daerah marjinal dengan daerah pusat dimana kekuatan pengaruh dan legitimasi masyarakat terhadap pemerintah pusat akan berbanding lurus dengan kemajuan infrastruktur yang telah dibangun.

Masyarakat Afghanistan terutama daerah-daerah terpencil memiliki resistensi tinggi terhadap upaya modernisasi. Hal ini disebabkan oleh pembangunan infrastruktur sosial yang masih minim. Infrastruktur juga menjadi hal yang vital bagi strategi manuver militer, mobilisasi dan konsentrasi pasukan serta pembuatan variasi taktik dan strategi serangan dalam upayanya untuk mengeliminasi pengaruh musuh. Faktor-faktor tersebut menjadi sumber kegagalan Uni Soviet dalam upayanya menancapkan pengaruhnya di Afghanistan selain adanya faktor-faktor tekanan negara-negara blok barat dan negara-negara islam.

Tidak hanya upaya-upaya eksternal yang terus mengalami kegagalan dalam mempertahankan pengaruhnya di Afghanistan, upaya-upaya internal dalam mempersatukan masyarakat Afghanistan juga tidak berhasil dilakukan. Politik internal Afghanistan mengalami kondisi yang tidak stabil sejak pembentukannya di tahun 1919 setelah bebas dari pengaruh Kerajaan Inggris dimana selama perjalanannya diwarnai kudeta, kontra kudeta, dan revolusi.

Kesulitan medan pegunungan Afghanistan yang dialami oleh Uni Soviet juga pada akhirnya dirasakan oleh Amerika Serikat. Setelah runtuhnya gedung kembar WTC tanggal 11 September, 2001, Amerika Serikat melancarkan perang melawan terorisme di Afghanistan. Walaupun telah berhasil membentuk pemerintahan baru yang pro barat dengan pembangunan infrastruktur yang lebih baik, mengaplikasikan doktrin pertempuran yang lebih maju dan penggunaan teknologi militer yang lebih canggih, perang masih berkecamuk selama hampir 17 tahun dengan pengaruh Taliban terhadap masyarakat lokal yang masih tetap kuat dan masih terus berkembang sampai saat ini.

Pertempuran di medan pegunungan adalah salah satu pertempuran yang paling sulit terutama bagi pihak yang belum terbiasa atau asing terhadap medan tersebut. Tidak hanya harus berhadapan dengan musuh, tetapi kewaspadaan terhadap medan berbahaya dan cuaca ekstrim juga perlu dilakukan. Bagi pihak yang memiliki teknologi militer tinggi, hal tersebut dapat tidak berarti apa-apa ketika medan yang ada tidak dapat ditembus olehnya.

Tentara Kanada mendaki pegunungan di timur Afghanistan, membawa tas-tas besar mereka. (c) Stephen Thorne/ Canadian Press.

 

Medan pegunungan tidak bisa memberikan ruang bebas bagi kendaraan tempur berat untuk bermanuver. Lembah-lembah sempit menjadi tempat yang ideal bagi serangan-serangan mendadak. Gua-gua, himpunan bebatuan dan semak-semak serta pepohonan dapat menjadi tempat persembunyian yang sempurna di ketinggian ketika pasukan musuh sedang berusaha menanjak naik. Tidak hanya memiliki keuntungan persembunyian, tetapi juga keuntungan gradien elevasi, gravitasi dan visual. Proses evakuasi juga dapat menjadi sangat sulit untuk dilakukan di daerah-daerah yang sulit dijangkau.

Selain itu alat-alat komunikasi mudah untuk terganggu sehingga dapat memutuskan kontak. Pada ketinggian tertentu kandungan oksigen yang berjumlah lebih sedikit dapat membuat tentara mengalami penyakit ketinggian. Berjalan dengan medan yang naik turun juga dapat menurunkan stamina dengan cepat.  Banyak tantangan yang dapat merugikan pihak yang tidak menguasai dan tidak mengenal medan. Medan pegunungan yang penuh dengan rintangan berat dapat menjadi keuntungan strategi yang menentukan bagi pihak yang telah terbiasa beradaptasi dengan medan tersebut. Dalam kasus medan pegunungan Afghanistan, kelompok Taliban lah yang mampu menyesuaikan kondisi tersebut.

Strategi pasukan Taliban adalah dengan membagi kelompok tempur dengan jumlah personel yang kecil yang tersebar di banyak titik. Hal tersebut menjadi strategi yang sangat ideal tidak hanya dalam mempertahankan pengaruh tetapi juga dalam melakukan serangan. Tidak hanya membuat serangan udara menjadi tidak efektif dan mahal tetapi membuat ruang manuver dan mobilisasi pasukan Amerika Serikat terbatasi. Gua-gua kars, gua-gua buatan pada batuan metamorf tua dan batuan beku, serta struktur sesar-sesar mendatar yang membentuk lembahan dan pegunungan memanjang menjadi hal yang dieksploitasi dengan baik oleh pasukan Taliban. Dengan penguasaan medan yang kuat, pengaruh yang dimiliki pemerintah pusat tidak lebih jauh dari daerah urban dan jalan-jalan utama. Namun, dengan konsentrasi pasukan yang kecil yang tersebar di banyak titik, pasukan Taliban tidak mampu melancarkan serangan besar untuk menguasai daerah perkotaan.

Estimasi biaya perang Amerika Serikat di Afghanistan yang dikeluarkan sejak dicanangkannya pada September 2001 adalah sebesar 1.070 milliar dollar AS. Nilai tersebut hampir sama dengan GDP Indonesia tahun 2016 sebesar 932 milliar dollar AS. Presiden Trump menyatakan akan terus melanjutkan keterlibatan militer di Afghanistan dengan mengirim pasukan tambahan dan berusaha untuk mengakhiri kebuntuan serta menekan pengaruh Taliban dan ISIS di perang terpanjang sepanjang sejarah Amerika Serikat.

 

(Penulis: Al Gracia de Rahmanov)

Sumber gambar: USGS

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0