Minyak dan Gas di Prisma Akresi Sumatra: Adakah Harapan di Ujung Barat Sana?

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Kebutuhan energi di Indonesia semakin meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan standar hidup masyarakat. Penopang sumber energi nasional adalah minyak dan gas bumi yang produksinya terkonsentrasi di wilayah geologi yang berupa cekungan belakang busur, cekungan muka daratan dan cekungan tepi benua. Sementara, wilayah cekungan muka busur minim perhatian dan tidak menjadi wilayah eksplorasi yang menarik. Mengapa? Hal ini disebabkan pandangan mayoritas ahli geologi bahwa wilayah tersebut “dingin” sehingga batuan sumber minyak dan gas tidak mampu matang.

Tetapi sebelum ikut pesimis, mari kita berkenalan dulu dengan salah satu bagian dari wilayah muka busur, yaitu prisma akresi. Prisma akresi adalah tumpukan material batuan terdeformasi yang terbentuk di tepian jalur subduksi. Material batuan tersebut umumnya berasal dari kerak samudra.

 

Skema sirkulasi internal dari sebuah prisma akresi. (Farida dkk, 2016 modifikasi dari Pluijm dan Marshak, 2004)

Kali ini kami ingin mengulas tulisan Tim Riset dari Universitas Diponegoro (UNDIP) yang diketuai oleh Yan Bachtiar Muslih dengan beranggotakan 5 orang. Tim ini memiliki pemikiran yang unik mengenai Prisma Akresi Sumatra (PAS) dan sedikit “melenceng” dari kaidah geologi umumnya. Mereka kemudian mempresentasikan idenya tersebut yang tertulis dalam paper berjudul “Cenozoic Sumatra Accretionary Prisms : A New Geological Perspective and Implication for Hydrocarbon Exploration” dalam kegiatan IPA Technical Symposium 2016 “Indonesia Exploration : Where from –Where to” di Fairmont Hotel Jakarta pada tanggal 8-10 November 2016. Tujuan dari penulisan paper tersebut adalah untuk mengenali karakter struktur, tektonostratigrafi dan yang terpenting adalah mengetahui keberadaan elemen petroleum system di PAS. Metode yang digunakan dalam penelitian Tim ini adalah interpretasi seismik (dari BGR), evaluasi data geologi permukaan kepulauan Mentawai dan regional.

Tektonostratigrafi PAS dibagi menjadi 3, yakni pre-accretion, syn-accretion dan post accretion. Apa sih maksudnya??? Pre-accretion diwakili oleh kumpulan batuan sedimen yang sudah ada sebelum terbentuknya prisma akresi di Sumatera. Kemungkinan kumpulan tersebut berada di tepi barat daratan Sumatra sebelum subduksi mengalami peningkatan intensitas. Keberadaannya patut dipertanyakan, mengapa? Karena bisa saja kumpulan batuan tersebut hilang akibat  tererosi oleh proses subduksi (subduction erosion). Kalau kita melihat tatanan geologi hari ini, pre-accretion juga berlaku untuk sedimen di Samudra Hindia.

Nah, kalau syn-accretion ini adalah kumpulan batuan sedimen yang terbentuk bersamaan dengan proses akresi di PAS. Material yang terakresikan berasal dari kerak samudra Hindia, yakni sedimen lumpuran dalam jumlah besar yang disuplai dari Delta Bengal di Bangladesh (jauh banget ya, OMG!). Syn-accretion didominasi oleh sedimen laut dalam dengan mekanisme gravitasi. Sedangkan, post-accretion adalah kumpulan batuan yang terbentuk di bagian PAS yang tertua dan stabil, yakni di bagian timur, umumnya berupa batugamping koral dan rombakannya.

Dari tektonostratigrafinya saja kita dapat membayangkan adanya keberadaan petroleum systems. Baik, kita ulas! Batuan sumber (Source rocks)-nya, yang merupakan elemen terpenting, dapat berasal dari material organik yang terbawa dari Delta Bengal. Selain itu, bisa juga berasal dari material organik marin yang terperangkap di lereng bawah prisma akresi akibat proses upwelling. Source rocks tersebut bisa matang akibat proses tekanan penindihan seiring bertambahnya material yang diakresikan di PAS.  Sesar anjak dapat menjadi jalur migrasi minyak dan gas bumi yang sudah terbentuk dan lipatan dapat menjadi ruang perangkapnya. Lah, terus yang jadi reservoarnya siapa? Tenang, masih ada harapan. Pekerjaan geologi lapangan yang dilakukan di Kepulauan Mentawai menunjukkan bahwa masih adanya bentukan sungai bawah laut dalam yang berpasir (sandy deep water channel), inilah harapannya! Selain itu, konsep batuan terrekahkan (fractured reservoir) juga dapat diaplikasikan di sini, khususnya untuk shale.

Lantas, panasnya dari mana? Gradien geotermal di sana cenderung dingin!

Penemuan batuan metamorf filitik di Kepulauan Mentawai menunjukkan adanya batuan sedimen yang termetamorfkan minimal pada suhu batas bawah proses metamorfisme itu sendiri (sekitar 200 C) yang sudah masuk dalam oil window.

Demikian ulasan menarik mengenai wilayah geologi yang jarang menjadi perhatian para eksplorasionis. Yuk kita diskusikan!

 

(Yan Bachtiar Muslih & Kamil Ismail)

Sumber: Farida, dkk. 2016. Cenozoic Sumatra Accretionary Prisms : A New Geological Perspective and Implications for Hydrocarbon Exploration

 

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0