Semburan Lumpur Panas di Tasikmalaya, Akankah Seperti Lusi?

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Sebuah titik semburan lumpur panas muncul di Kabupaten Tasikmalaya tepatnya  di Kampung Sindangrasa, RW 01, RT 03, Desa Cigunung, Kecamatan Parungponteng, Kabupaten Tasikmalaya pada tanggal 23 Oktober 2017 dan sempat viral di dunia maya beberapa hari terakhir ini.

Semburan tersebut berasal dari pengeboran sumur air warga yang rencananya akan dibor sedalam kurang lebih 100 meter, tetapi pada kedalaman sekitar 45 meter mulai muncul semburan air panas yang kemudian berubah perlahan menjadi semburan air disertai lumpur panas.

Kejadian ini menghebohkan warga sekitar dan pemerintah setempat. Pemerintah khawatir jika semburan ini terus dibiarkan akan berdampak layaknya semburan LUSI (Lumpur Sidoarjo). LUSI sampai sekarang masih menjadi bencana yang belum dapat terselesaikan, berbagai cara dan metode dari pemerintah untuk menghentikan semburannya masih belum berhasil menangani LUSI.

Sebagai seorang geologist penulis mencoba mencari penyebab kenapa bisa terjadi adanya semburan lumpur ini. Mari kita lihat lokasi semburan dan kemudian kita overlay (gabungkan) dengan peta geologi regional daerah Tasikmalaya kemudian kita sama-sama analisis.

Kenampakan semburan lumpur panas di Desa Cigunung, Kecamatan Paroeng Ponteng, Kabupaten Tasikmalaya (wartapriangan.com).

Semburan ini merupakan semburan lumpur panas pertama yang terjadi di Kabupaten Tasikmalaya. Menurut warga semburan ini muncul dengan ketinggian awal 4-5 meter, kemudian setelah 1 hari berkurang sekitar 1 meter. Di sekitar lokasi semburan tercium bau belerang, dan warga menghawatirkan dampaknya pada kesehatan pernapasan.

Selanjutnya mari kita analisis dari sudut pandang geologi. Di bawah merupakan peta geologi regional yang di overlay dengan lokasi semburan dan citra SRTM.

Peta indeks lokasi semburan, a. Kenampakan dari citra SRTM, b. Kenampakan dari peta geologi regional, c. Overlay peta geologi regional dengan SRTM.

Lokasi semburan termasuk dalam 2 peta geologi regional, yaitu Peta Geologi Regional Lembar Tasikmalaya (Budhitrisna, 1986) dan Peta Geologi Regional Lembar Karangnunggal (Supriatna, dkk, 1992). Terlihat dalam citra SRTM, lokasi semburan lumpur berada pada daerah yang diperkirakan terdapat struktur geologi berupa sesar diperkuat dengan data hasil overlay antara SRTM dan geologi regional yang memang terdapat jalur sesar.

Jadi diperkirakan salah satu penyebab terjadinya semburan lumpur panas dikarenakan adanya sesar. Selain itu, dekat dengan lokasi semburan terdapat beberapa gunungapi salah satunya Gunungapi Galunggung, Gunung Pongporang, dan Gunung Cintabodas sehingga apabila terjadi semburan berupa air panas dan lumpur panas ada kaitannya dengan keberadaan gunung dekat dengan lokasi. Manifestasi panas bumi juga seharusnya ditemukan di daerah dekat dengan semburan tersebut.

Selain dari analisis citra dan geologi regional, terdapat juga penjelasan mengenai semburan tersebut dari sudut pandang hidrogeologinya yaitu adanya overpressure yang menyebabkan terjadinya semburan akibat overburden lebih kecil dari tekanan fluida dan total headnya lebih tinggi dari pada permukaan tanah. Berikut merupakan pemodelan sederhana dari penjelasan hidrogeologi.

Rumus Terzaghi dalam penentuan overpressure (slide kuliah hidrogeologi, ITB)

Dari rumus tersebut dapat dihitung kemungkinan terjadinya overpressure, yaitu apabila overburden yang ada lebih kecil dari pore pressure + effective stress. Penjelasan secar sederhananya adalah apabila tekanan yang diberikan dari atas lebih kecil dari pada tekanan dari bawah, sebaliknya apabila tekanan dari atas lebih besar daripada bawah maka akan terjadi subsidence (penurunan/amblesan).

Pemodelan sangat sederhana terjadinya overpressure.

Semburan terjadi salah satu penyebabnya dari sudut pandang hidrogeologi adalah adanya akuifer yang tertekan dan total head lebih tinggi daripada muka airtanahnya. Ketinggian semburan di setiap lokasi dapat berbeda dilihat dari muka airtanahnya. Daerah yang lebih rendah ketinggian semburannya kemungkinan lebih tinggi daripada daerah yang lebih tinggi secara morfologi dan dilihat juga dari total headnya.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kementerian ESDM telah dating melakukan pengamatan di lapangan dan menyimpulkan semburan lumpur dan air panas tersebut tidak perlu dicemaskan oleh masyarakat karena tidak mengandung gas berbahaya.

Bahaya dari semburan lumpur tersebut hanya berasal dari suhunya yang bisa melukai manusia, karena mencapai 79o C.

Untuk sementara ini, aparatur pemerintah setempat dan kepolisian telah melakukan pengamanan sekitar semburan, termasuk memasang garis polisi agar tidak didekati warga.

(Dika Prasaja / Geopedia.co, gambar sampul: antara)

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0