Geologi dan Gerakan Tanah Gunungapi Galunggung

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0
Tasikmalaya dan Gunung Galunggung. (Google Map)

Geolog Belanda yang membuat Geologi of Indonesia (1949), van Bemmelen memasukkan wilayah Tasikmalaya ke dalam zona fisiografi Gunung Api Kwarter, Zona Depresi Tengah, dan Zona Pegunungan Selatan.

Terletak dalam tiga zona fisiografi yang berbeda membuat wilayah Kabupaten Tasikmalaya memiliki karakter struktur geologi yang berbeda dari utara hingga ke selatan.

Tasikmalaya terletak di bagian selatan Jawa Barat, berbatasan dengan Kota Garut di bagian barat dan dengan Kota Ciamis di bagian timur. Nama Tasikmalaya semula adalah Tawang/Galunggung yang dalam Bahasa Sunda berarti sawah yang luas.

Nama Tawang diganti menjadi Tasikmalaya setelah Gunungapi Galunggung meletus karena wilayah Tawang penuh dengan lautan pasir hasil erupsi Galunggung. Dalam Bahasa Sunda, tasik berarti danau sedangkan malaya berarti bukit pasir. Jadi, Tasikmalaya berarti daerah lautan bukit pasir. Gunungapi Galunggung masuk ke dalam tipe  gunungapi muda yang masih aktif hingga saat ini.

Bagian tengah Kabupaten Tasikmalaya termasuk ke dalam Zona Depresi  Tengah yang dicirikan morfologi perbukitan curam dan dipisahkan oleh lembah-lembah luas. Perbukitan tengah tersebut dihasilkan dari aktivitas tektonik yang menghasilkan lipatan-lipatan pegunungan yang oleh van Bemmelen disebut dengan intermontane depression.

Zona Pegunungan Selatan merupakan rangkaian pegunungan  yang membujur dari Pelabuhan Ratu sampai Pulau Nusakambangan. Kabupaten Tasikmalaya bagian selatan didominasi oleh plato (dataran tinggi) yang terdiri dari daerah kapur, sehingga di daerah Kabupaten Tasikmalaya banyak dijumpai gua kapur. Adanya daerah kapur menandakan bahwa Tasikmalaya dahulunya berada di bawah laut yang kemudian mengalami pengangkatan secara tektonik sehingga menjadi daratan.

Geomorfologi Tasikmalaya dapat dirangkum dalam tiga satuan geomorfologi berikut:

  1. Satuan Perbukitan Landai, menempati bagian baratlaut Kota Tasikmalaya, dengan ketinggian berkisar 280 – 475 mdpl. Satuan ini membentuk perbukitan-perbukitan soliter dengan ukuran bervariasi berkisar puluhan meter. Tersusun atas litologi breksi vulkanik, lava andesit, tuf, dan endapan pasir.
  2. Satuan Pedataran, menempati bagian tengah dan timur Kota Tasikmalaya, dengan ketinggian berkisar 201 – 350 mdpl. Tersusun atas litologi breksi vulkanik, lava andesit, tuf, dan endapan pasir tufaan yang termasuk ke dalam endapan breksi vulkanik Gunungapi Galunggung yang berumur Holosen. Endapan ini merupakan hasil letusan dan longsoran saat terjadi erupsi Gunungapi Galunggung.
  3. Satuan Perbukitan Curam, menempati bagian selatan Kota Tasikmalaya. Satuan ini memiliki ketinggian berkisar 300 – 503 mdpl, tersusun atas litologi breksi gunungapi, lahar, tuf yang bersifat andesiti – basaltik yang termasuk ke dalam endapan gunungapi muda yang berumur Holosen.

Kondisi geomorfologi yang curam dan intensitas hujan yang tinggi menyebabkan daerah Tasikmalaya khususnya Gunungapi Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya rawan terhadap berbagai bencana geologi, terutama gerakan tanah.

Beberapa minggu yang lalu intensitas hujan di sekitar Gunungapi Galunggung termasuk tinggi dan mengakibatkan terjadinya gerakan tanah pada tanggal 16 September 2017. Gerakan tanah tersebut terjadi di dekat kawah Gunungapi Galunggung sebelah utara dan menelan tiga korban jiwa. Menurut kepala BPBD Kabupaten Tasikmalaya, bencana ini baru pertama kali terjadi di kawasan Gunungapi Galunggung dan diduga dipicu oleh penebangan liar di sekitar kawahnya. Selain itu, terjadinya eksploitasi pasir juga ikut berpengaruh terhadap terjadinya gerakan tanah ini.

Gerakan tanah di sebelah utara kawah Gunungapi Galunggung.

Penyebab terjadinya suatu gerakan tanah ada dua, yaitu faktor pemicu dan faktor pengontrol. Faktor pemicu merupakan faktor yang memicu terjadinya gerakan tanah, seperti hujan, kesalahan tata guna lahan, kegiatan manusia, dan yang lainnya. Faktor pengontrol merupakan faktor yang dapat mengakibatkan bencana yang ada di wilayah tersebut, seperti adanya struktur geologi, litologi, dan faktor geologi lainnya.

Litologi daerah Galunggung tersusun atas litologi breksi vulkanik dan pasir hasil erupsi Gunungapi Galunggung, faktor litologi ini yang kemungkinan besar menjadi faktor pengontrol terjadinya gerakan tanah di kawah Gunungapi Galunggung.

Gerakan tanah yang terjadi di Gunungapi Galunggung termasuk dalam jenis debris flow yaitu aliran gerakan tanah seperti cairan yang membawa material yang telah hancur seperti batuan, tanah, dan ranting kayu. Jenis gerakan tanah ini merupakan jenis yang paling banyak di jumpai di Indonesia. Gerakan tanah di Daerah Jemblung, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah juga termasuk dalam tipe ini.

Masyarakat harus lebih waspada terhadap gerakan tanah susulan, karena dengan intensitas dan durasi hujan yang masih tinggi di Kabupaten Tasikmalaya kemungkinan besar akan terjadi gerakan tanah di daerah lainnya. Kewaspadaan masyarakat terhadap bencana ini sangat diperlukan untuk mengurangi adanya korban jiwa.

Kerja sama dari pemerintah, masyarakat, dan instansi lainnya sangat diperlukan untuk mengurangi dampak negatif dari bencana geologi seperti gerakan tanah tersebut. Salah satunya dengan memberikan pemahaman dan informasi kepada masyarakat, sehingga apabila terjadi suatu bencana masyarakat tidak kebingungan harus lari ke arah mana untuk dapat mengevakuasi diri.

(Geopedia.co – Dika Prasaja )

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0