Eksplorasi Migas untuk Pemula

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Satuan Kerja Khusus Pengatur Kegiatan Hulu Migas (SKK Migas) dan PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) meluncurkan buku komik edukasi berjudul “Eksplorasi Migas yang Ramah Lingkungan”. Buku ini dibagikan ke sekolah dasar di sekitar PHE ONWJ beroperasi.

Buku tersebut ditulis oleh mantan Kepala SKK MIGAS Rudi Rubiandini untuk memperkenalkan industri migas kepada anak-anak dengan cara yang menarik dan bahasa yang mudah dimengerti, dengan harapan agar anak-anak dapat mengerti bahwa energi migas tidak didapat dengan mudah dan kelak bisa menghemat energi atau bahkan menjadi pelaku pengadaan sumber energi alternatif di masa depan.”

Dibagikan secara terbatas, Geopedia.co menuliskan kembali teks dalam buku tersebut untuk memperluas jangkauan pembaca.

Skema industri Migas di bagian hulu dan hilir. (c) SKK Migas

 

Apakah Eksplorasi Itu?

Eksplorasi itu adalah kegiatan mencari daerah tempat minyak atau gas di bawah tanah. Bisa dilakukan di darat, tapi bisa juga di laut. Eksplorasi membutuhkan sumber daya manusia yang handal, biaya yang besar, dan teknologi tinggi.

Pencarian cadangan minyak dan gas bumi adalah eksplorasi tempat ladang minyak atau gas ditemukan, disebut sebagai reservoir. Sebuah reservoir pasti juga didukung oleh sumber minyak atau gas yang berada di sekitarnya. Daerah pendukung itu disebut kitchen (dapur pembuatan minyak atau gas). Berjuta tahun lalu, kitchen terbentuk karena adanya kehidupan yang berkembang baik di daratan maupun di lautan. Bahan-bahan tersebut mengandung hidrogen atau oksigen yang secara terus menerus mendapatkan panas dan tekanan yang semakin tinggi. Sehingga komponen oksigen bereaksi dengan bahan-bahan sekitar, Sedangkan hidrogen dan karbon terikat satu sama lain membentuk unsur baru yang disebut hidrokarbon. Hidrokarbon yang ikatannya cukup panjang biasanya menjadi cikal bakal minyak bumi, sedang hidrokarbon yang ikatannya pendek menjadi cikal bakal gas bumi.

Untuk meneropong bentuk reservoir di bawah tanah, digunakan teknologi yang dapat menembus lapisan bumi. Oleh karena itu kegiatan eksplorasi membutuhkan bantuan dari berbagai disiplin ilmu: ilmu geologi, geofisik, dan teknik reservoir. Kajian geologi dibutuhkan untuk mengkaji struktur dan susunan batuan (stratigrafi) lapisan bawah permukaan, sehingga dapat diketahui kemiringan batuan dan perubahan sifat-sifat batuan (litologi) dikawasan tersebut.

Terdapat berbagai macam metode geofisika, misalnya metode gravity, metode density, ataupun metode seismik. Walaupun demikian, metode seismik adalah metode yang paling banyak dipakai karena mampu meneropong keadaan lapisan tanah sampai kedalaman ribuan meter dibawah tanah. Prinsip metode seismik sangat sederhana, yaitu menggunakan frekuensi suara melalui alat penambah eksplosif untuk membaca kualitas batu yang ditembus. Kecepatan frekuensi suara akan semakin besar bila melewati batu yang keras. Sebaliknya, kecepatan frekuensi suara akan berkurang bila melewati batuan lunak.

Oleh para ahli geologi, hasil seismik yang sebenarnya hanya berwarna hitam dan putih, kemudian dipetakan dengan menggunakan warna-warna tertentu dan diterjemahkan ke dalam gambar dua dimensi. Dengan demikian akan terlihat garis kedalaman dan ketinggian permukaan lapisan. Interpretasi dari posisi garis-garis tersebut akan menentukan ada tidaknya prospek untuk pemboran eksplorasi.

Visualisasi dari batuan di bawah tanah juga dapat dilakukan secara tiga dimensi, sehingga lebih memudahkan kita untuk menentukan posisi pengeboran eksplorasi. Namun visualisasi tiga dimensi maupun dua dimensi tersebut masih mengandung risiko kesalahan, tergantung dari interpretasi para ahli geologi maupun geofisika saat menginterpretasikan data yang diperoleh dari lapangan.

Interpretasi geologi yang baik dilakukan oleh ahli geologi yang kaya pengalaman. Untuk melakukan interpretasi geologi diperlukan pengetahuan yang mendalam mengenai geologi serta kemampuan menggabungkan semua rekaman seismik dan melakukan perhitungan dengan berbagai proses matematis. Seiring dengan perkembangan teknologi, sekarang banyak pekerjaan itu yang bisa dibantu dengan menggunakan komputer.

Mengapa kegiatan ekplorasi masih mengandung risiko kegagalan kendati telah menggunakan kajian geologi maupun kajian geofisika? Kesalahan interpretasi dapat menyebabkan kegagalan usaha pencarian minyak, sebab tidak ada jaminan bahwa batuan yang ditemukan menghadap ke bawah adalah batuan reservoir yang mengandung minyak. Kegiatan eksplorasi yang dilakukan adakalanya hanya berpotensi menemukan batuan berbentuk mangkok terbalik, tetapi isinya air belaka.

Indonesia belum memiliki teknologi yang dikembangkan secara mandiri di bidang migas, sehingga masih harus mengimpor dari negara-negara maju. Indonesia juga tidak memiliki dana cukup besar yang digunakan untuk membiayai kegiatan berisiko tinggi seperti eksplorasi, dan masih membutuhkan tenaga asing yang ahli di bidang eksplorasi. Keadaan yang demikian ini membuat Indonesia membutuhkan kerja saman dengan pihak asing, terutama yang memiliki pendanaan besar.

Kegiatan pengeboran (drilling) adalah pembuatan sumur (well) dengan cara membuat lubang jauh ke dalam bumi, hingga mencapai kedalaman yang dituju. Sumur ini sangat diperlukan sejak masa eksplorasi, pengembangan produksi, sampai masa injeksi.

Proses pengeboran dapat dilakukan di daratan (onshore) atau di laut (offshore). Untuk pengeboran di laut, diperlukan sebuah menara yang disebut dengan rig. Rig tersebut perlu penyangga yang dikenal dengan anjungan (platform).

Platform berupa anjungan yang tidak bisa bergerak (fix) atau bisa bergerak naik-turun (jack up), atau bisa dipindah-pindahkan (semisubmersible), atau juga menggunakan anjungan-anjungan khusus seperi TLP (Tension Leg Platform), spar, dan anjungan-anjungan lainnya.

Operasi pengeboran merupakan suatu kegiatan yang terdiri dari beberapa tahapan kegiatan. Sebelum operasi pengeboran dapat dilaksanakan, pertama-tama yang perlu dilakukan adalah tahap persiapan. Misalnya menyiapkan lokasi, mengurus perizinan, memobilisasikan peralatan dan sebagainya.

Kegiatan pengeboran dapat dilakukan secara tegak (vertikal), miring (directional), ataupun mendatar (horizontal). Pada umumnya untuk pengeboran eksplorasi digunakan pengeboran secara tegak lurus (vertikal), sehingga proses pengeboran dilakukan dengan risiko yang paling kecil. Sementara untuk pengeboran secara directional, biasa dilakukan jika terdapat kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan untuk dilakukan pengeboran vertikal, yaitu kendala di permukaan dalam peletakan rig, menghindari zona-zona tertentu, dan untuk aplikasi pengeboran banyak arah (multipad). Sementara pengeboran secara horizontal dilakukan untuk memperluas bidang pengurasan,  sehingga produksi minyak atau gas lebih tinggi daripada pengeboran secara vertikal maupun directional.

Tahapan produksi yaitu mengalirkan minyak dari dalam tanah ke permukaan, kemudian mengalirkannya menggunakan pipa-pipa sampai ke tangki penimbunan sementara. Selanjutnya minyak mentah tadi dikirim ke pengolahan untuk dijadikan bensin, minyak tanah, solar, dll. Kemudian dikirim dan dipasarkan supaya dapat dinikmati oleh masyarakat.

Pada saat pertama kali produksi, biasanya reservoir dapat mengangkat minyak dan gas tanpa alat bantu. Namun sumur yang sudah tua tekanannya semakin rendah, sehingga memerlukan alat bantu seperti pompa di rumah. Diperlukannya alat bantu sangat tergantung dari kekentalan minyak, jenis batuan dan kekuatan tekanan di bawah tanah.

(Geopedia.co, dirangkum dari buku Eksplorasi Migas yang Ramah Lingkungan terbitan SKK Migas dan PHE ONWJ. Gambar sampul: SKK Migas)

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0