Melihat Sahara 6000 Tahun Lampau: Padang Rumput Tropis

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Sekitar 6000 tahun yang lalu, Gurun Sahara adalah padang rumput yang menerima banyak curah hujan. Namun, kondisi ini berubah dikarenakan pergeseran pola cuaca dunia secara tiba-tiba dari wilayah yang bervegatasi menjadi daerah paling kering di muka bumi. Peneliti dari Universitas Texas A&M mencoba untuk mengungkap petunjuk yang dianggap bertanggungjawab terhadap transformasi iklim yang besar ini, sehingga juga hasil penelitian dapat menyebabkan prediksi curah hujan yang lebih baik di seluruh dunia.

Robert Korty, Lektor Kepala di Departemen di Ilmu Atmosfer, bersama rekannya William Boos dari Universitas Yale, menerbitkan hasil pekerjaanya dalam edisi terbaru jurnal Nature Geoscience.

Kedua peneliti melihat pola presipitasi era Holosen dan membandingkan dengan pergerakan zona konvergensi intertropis saat ini, wilayah yang memiliki curah hujan tropis intens. Menggunakan pemodelan komputer dan data pendukung lainnya, peneliti tersebut menemukan hubungan pola curah hujan ribuan tahun yang lalu.

“Sabuk hujan tropis terkait dengan apa yang terjadi di tempat lain di dunia melalui sirkulasi Hadley, tetapi itu tidak akan akan memprediksi perubahan di tempat lain secara langsung, sebagai rantai peristiwa yang sangat kompleks. Namun,  merupakan langkah menuju tujuan tersebut.

Sirkulasi Hadley adalah sirkulasi atmosfer tropis yang naik di dekat zona ekuator. Hal ini terkait dengan angin subtropik, sabuk hujan tropis, dan mempengaruhi posisi badai, topan, dan jet stream – hembusan angin berkecepatan 100 km/jam pada kondisi ekstrem. Fenomena tersebut dapat membentuk kondisi seperti gurun. Mayoritas daerah kering di bumi berada di bawah bagian menurun Sirkulasi Hadley.

“Kita tahu bahwa 6000 tahun yang lalu, bahwa Gurun Sahara merupakan daerah bercurah hujan tinggi” tambah Korty.

“Menjadi suatu misteri untuk memahami bagaimana sabuk hujan tropis bergerak sangat jauh ke arah utara dari ekuator. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa migrasi curah hujan besar dapat terjadi di satu bagian bumi bahkan ketika sabuk tidak dapat bergerak ke banyak tempat lain.”

“Kerangka kerja ini juga dapat berguna untuk membuat prediksi detil tentang bagaimana kecenderungan hujan tropis untuk berpindah selama peristiwa El Nino dan La Nina dewasa ini (pendinginan atau pemanasan perairan di bagian tengah Samudera Pasifik yang cenderung mempengaruhi pola cuaca di seluruh dunia).”

“Hasil penelitian ini merupakan cara yang lebih baik untuk memprediksi pola curah hujan di masa depan di belahan dunia,” jelas Korty.

“Salah satu dampak dari hasil ini adalah bahwa kita dapat menyimpulkan bagaimana curah hujan akan berubah dalam respon terhadap tindakan individu,” sebut Korty. “Kita dapat menyimpulkan bahwa variasi orbit bumi yang menggeser curah hujan utara di Afrika 6000 tahun lalu cukup mempertahankan jumlah hujan yang berdasarkan bukti geologi menunjukkan tempatnya itu adalah Gurun Sahara. Umpan balik antara pergeseran hujan dan vegetasi yang berada bersamanya diperlukan untuk mendapatkan hujan lebat ke Sahara.”

BED/Geopedia.co, Disadur dari sumber

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0