Kabar dari Peneliti Indonesia di Antartika

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0
Nugroho Imam Setiawan mengibarkan merah putih di Antartika. (c) Nugroho Imam Setiawan

Nugroho Imam Setiawan, Ph.D terpilih sebagai salah satu ilmuwan yang terlibat dalam ekspedisi ke Antartika bersama Japan Antarctic Research Expedition (JARE) yang telah berjalan sejak 27 November 2016 lalu. Dari daratan di ujung selatan dunia itu, dosen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada tersebut sesekali mendapat kesempatan untuk mengakses internet dan menggunakannya untuk berbagi pengalamannya menjalani fieldwork di Antartika melalui kiriman di laman Facebooknya.

Kiriman pertama pada 13 Januari lalu menceritakan apa yang ditemuinya dalam kegiatan penelitian lapangan di  kutub selatan.

“Tidak ada tipe batuan lain di lokasi penelitian selain batuan metamorf (gneissik) dan granitoid (pluton maupun pegmatit) ataupun perpaduan keduanya (migmatit). Struktur honeycomb structure sering dijumpai pada batuan akibat gerusan angin dengan iklim kering di permukaan batuan.” Tulisnya menjelaskan batuan penyusun kutub selatan.

“Tiap hari kami mengoleksi 10-20 kg sampel batuan dengan jarak tempuh 5-10 km.” Lanjutnya.

Kondisi basecamp, seperti diuraikan Nugroho, terdiri dari satu tenda bersama untuk kegiatan makan dan bekerja seluruh anggota tim, serta tujuh tenda-tenda kecil untuk setiap anggota dan dua tenda toilet. Jika beruntung, tenda-tenda tersebut dibangun di atas alas pasir yang datar, namun lebih sering yang ditemui adalah bebatuan runcing dan miring sebagai pilihan satu-satunya tempat mendirikan tenda.

Ekspedisi ini dilaksanakan saat Antartika sedand dalam musim panas. Meski demikian, suhu dingin tetap merupakan tantangan terberat dalam bekerja. “Suhu udara bervariasi dari -5 derajat hingga 5 derajat celcius dengan kelembaban udara 40-60%. Beberapa kali kami harus bekerja seharian dalam kondisi -2 derajat ditambah angin dingin dan hujan salju.” Nugroho menjelaskan

“Pada malam hari menjelang tidur, di dalam tenda pun suhu masih -1 hingga 0 derajat. Untung ada sleeping bag hangat sebagai penjamin tidur tetap nyenyak.“ Lanjutnya.

Beliau juga mengatakan bahwa lapangan Antartika merupakan medan berat yang melelahkan dengan bebatuan runcing yang mengoyak sepatu hingga robek di sana-sini. Matahari bersianar dalam 24 jam tanpa henti menghitamkan wajah dan kelembaban rendah membuat kulit kuku mudah mengelupas menimbulkan rasa perih.

“Tapi rasa lelah itu tidak sebanding dengan pengalaman, ilmu, dan rasa kagum akan keagungan Tuhan.” Ujarnya menutup tulisan di dinding laman facebooknya tersebut.

(Hafiz Fatah, disadur dari sumber)

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0