Rahasia yang Terekam dalam Kristal Supervulkano Toba

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Temuan terbaru dalam studi sejarah letusan Gunungapi Toba telah mengungkap apa yang memicu terjadinya letusan gunungapi terdahsyat dalam sejarah manusia ini. Rahasia gunungapi tersebut terungkap oleh petunjuk dari data geokimia yang berada di dalam kristal-kristal kuarsa hasil vulkanisme.

Gunungapi paling mematikan di bumi yang disebut sebagai supervolkano ini, menghasilkan letusan dahsyat yang berdampak terjadinya kehancuran luas, bahkan hingga menyebabkan pendinginan global pada iklim dunia. Supervulkano Toba di Pulau Sumatra, Indonesia, meletus sekitar 73.000 tahun yang lalu, melontarkan 2800 kubik kilometer debu vulkanik  ke atmosfer yang kemudian menghujani sebagian besar wilayah Indonesia dan India.

Para ahli vulkanologi meneliti tentang bagaimana  magma dalam volume yang luar biasa tersebut dihasilkan dan apa yang membuat magma tersebut memiliki daya letusan yang sangat besar. Sebuah tim yang berasal dari Universitas Uppsala, Swedia, menemukan petunjuk menarik dari kristal berukuran millimeter dari debu dan batuan vulkanik.

Peneliti menganalisis kristal kuarsa dari Toba dan menemukan pergeseran komposisi isotop menuju bagian luar dari lingkaran kristal. Sumber: Uppsala Universiteit.

“Kristal kuarsa yang berkembang di dalam magma mengalami perubahan termodinamika dan kimiawi dalam sistem magma sebelum letusan terjadi, mirip seperti lingkaran pohon yang merekam variasi iklim. Ketika magma berubah, kristal tersebut merespon dan merekam perubahan yang terjadi dengan membentuk lingkaran pertumbuhan. Masalahnya adalah, setiap satu lingkaran tersebut hanya berukuran mikrometer, sehingga memberikan tantangan tersendiri untuk diperiksa secara detail.” Kata Dr. David Budd dari Departemen Kebumian Universitas Uppsala.

Analisis terhadap kristal kuarsa dari Toba memperlihatkan adanya pergeseran komposisi isotop menuju bagian luar dari lingkaran kristal. Lingkaran luar kristal tersebut relatif lebih banyak mengandung isotop berat 18O dibandingkan dengan 16O yang lebih ringan.

Rasio 18O yang lebih kecil dari 16O di dalam lingkaran kristal  menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan drastis pada magma sesaat sebelum letusan besar. Makna dari pertanda kimiawi ini adalah, magma telah meleleh dan berasimilasi dengan massa batuan yang memiliki rasio 18O lebih rendah dari 16O. Jenis batuan ini juga mengandung banyak air yang mungkin terlepas di dalam magma sehingga menghasilkan uap, dan kemudian meningkatkan tekanan gas dalam dapur magma. Peningkatan tekanan gas yang cepat ini memecah bagian atas kerak dan mengirim ribuan kubik kilometer magma ke atmosfer, jelas Dr. Frances Deegan dari Departemen Kebumian Universitas Uppsala.

“Untungnya, bencana dahsyat ini sangat jarang terjadi. Ahli biologi menyebutkan bahwa letusan di Toba ini mengancam manusia mendekati titik kepunahan. Peristiwa berikutnya semoga hanya akan terjadi ribuan tahun yang akan datang. Namun yang jelas, terjadinya sebuah letusan lagi hanyalah masalah waktu. Letusan itu mungkin terjadi di Toba, Yellowstone (Amerika) atau di mana pun. Semoga saja, kita telah mengetahui lebih banyak dan dapat melakukan persiapan lebih baik di masa depan, jelas Profesor Valentin Troll dari Departemen Kebumian Universitas Uppsala, yang memimpin penelitian kuarsa Toba ini.

(BED/Geopedia.co, diterjemahkan dari SumberGambar sampul: Google Earth)

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0