Ilmuwan Ungkap Benua Baru di Timur Australia, Zealandia

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Zealandia – nama sebuah paparan luas di dasar Samudra Pasifik bagian baratdaya –  selangkah lagi dapat disebut sebagai sebuah benua baru, seperti yang telah diajukan beberapa peneliti baru-baru ini.

Dalam karya ilmiah yang diterbitkan oleh GSA, Masyarakat Geologi Amerika, para peneliti berpendapat bahwa pelamparan yang luas dan menerus dari kerak benua yang berpusat di Selandia Baru itu membuatnya dinilai layak untuk dianggap sebagai sebuah benua yang berdiri sendiri.

 

Area Benua Zealandia. (c) The Guardian.

Zealandia mencakup area seluas 5 juta km2 yang berada di bawah Samudera Pasifik dan tak hanya meliputi Selandia Baru, namun juga Kaledonia Baru, Pulau Norfolk, Kepulauan Lord Howe, serta terumbu karang Elizabeth dan Middleton. Dengan luas yang hampir seukuran dengan anak benua India, Zealandia diperkirakan telah terpisah dari Gondwana, daratan besar yang meliputi Australia, dan tenggelam sekitar 60 juta hingga 85 juta tahun yang lalu.

“Yang kita titik beratkan adalah adanya paparan yang sangat luas, meskipun sebagian besar areanya di bawah permukaan laut,” jelas Nick Mortimer, geolog yang merupakan bagian dari tim penulis makalah ini.

Ide mengenai Zealandia sebagai benua tersendiri telah muncul dalam pembahasan di kalangan ahli geologi sejak 20 tahun terakhir. Ahli geofisika dari Amerika Bruce Luyendyk adalah orang pertama yang menggunakan nama Zealandia untuk menyebut benua di baratdaya Pasifik ini pada tahun 1995. Sejak itu, anggota tim penulis makalah Zealandia ini menerangkan, istilah tersebut telah cukup dipahami, namun belum dipakai secara luas.

Mortimer dan rekannya dari lembaga penelitian GNS Science dan Universitas Victoria Wellington di Selandia Baru, Lembaga Geologi Kaledonia Baru, dan Fakultas Geosains Universitas Sydney berpendapat bahwa Zealandia memiliki semua karakteristik sebuah benua.

Mortimer mengatakan kepada Guardian Australia bahwa usulan ini adalah karya ilmiah pertama yang telah diuji peer-review dalam mendefinisikan dan menjelaskan Zealandia, namun penemuan ini bukanlah sesuatu yang baru bagi sebagian besar geosaintis Selandia Baru. Mereka bahkan mungkin akan heran terhadap ramainya perbincangan mengenai topik ini.

Mortimer mengatakan bahwa ia dan peneliti lain mulai menyusun benua yang terendam ini dengan mengeluarkan peta batimetrik pada tahun 2002. “Saat itu kucuran dana turun, dan titik tersebut menjadi roadmap dalam mengumpulkan batuan dari empat titik Zealandia yang kami harap dapat menjadi bukti geologis”.

“Tidak ada proyek resmi berkaitan dengan Zealandia,” ujar Mortimer. “Semuanya merupakan proses bertahap  yang dilakukan seperti menghubungkan titik-titik.”

“Saya kira kuncinya ada pada tingkat keyakinan, terhadap akumulasi data dan apa yang telah kami kerjakan pada data tersebut.”

Zealandia pada peta benua dunia. (c) GNS Science

Zealandia yangditunjukkan pada peta benua dunia. Gambar: GNS Science

Zealandia akan menjadi benua ketujuh dan terkecil di dunia, setelah Eurasia, Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Antartika, dan Australia. (Eropa dan Asia terkadang dianggap terpisah, meskipun merupakan massa daratan yang sama).

“Ternyata Selandia Baru bukan hanya kumpulan dari pulau-pulau kecil di bagian bawah bumi,” seperti yang ditulis Fairfax Media New Zealand. Barry Kohn, seorang professor kebumian di Universitas Melbourne, yang telah melakukan penelitian bersama Mortimer mengenai Zealandia beberapa waktu lalu, komunitas ilmiah cukup sepakat dalam mendukung keberadaan benua ini.

“Jelas bahwa area yang luas tersebut buka kerak samudera. Area tersebut menunjukkan ciri-ciri dari sebuah benua.”

Dia mengatakan bahwa batuan yang diambil dari area tersebut dipastikan merupakan bagian dari kerak benua. Data yang telah dianalisis dari beberapa dekade terakhir banyak mengonfirmasi keberadaan benua ini.

“Pepatah Roma yang tidak dibangun dalam satu malam juga berlaku dalam ilmu pengetahuan. Kita perlu mengumpukan bukti sedikit demi sedikit.”

“Benua ini pernah menjadi bagian dari benua besar yang kemudian pecah menjadi bagian-bagian kecil dari suatu puzzle.”

Akan tetapi, meski terdapat banyak bukti yang mendukung Zealandia sebagai benua baru, kepastian statusnya sebagai benua ketujuh tergantung pada faktor historis, menurut Mortimer.

“Untuk menamai sebuah gunung, ada prosedur yang harus dilalui untuk mendapatkan pengakuan secara resmi. Sama halnya, jika Zealandia berkembang dalam budaya populer dan ditulis dalam peta, itu cukup untuk memberikan validasi sebagai pengakuan sebuah benua baru.”

BED/Geopedia, Sumber: The Guardian
Catatan: Artikel telah diedit dan disesuaikan dengan panjang naskah.

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0