Gunakan dengan Bijak Istilah Glass, Volcanic Glass, atau Obsidian

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Mengingat posisi negara kita yang disebut berada pada “Ring of Fire”  – eh kok ring? Padahal busur magmatik dunia tidak pernah terlihat terhubung. Jadi apakah masih tepat disebut sebagai “Ring of Fire”? Bagaimana kalau diganti dengan istilah “Belt”?. Jadi kita sebut saja dengan “Belt of Fire”, namun terkesan maksa ya? Begini saja, kita gunakan istilah yang sudah umum yaitu “Magmatic Belt”. Rasanya sangat penting untuk menaruh perhatian khusus pada batuan vulkanik karena posisi kita pada magmatic belt ini. Setuju?

Terminologi yang biasa kita gunakan dalam pendeskripsian batuan vulkanik seperti gelas, gelas vulkanik, dan obsidian memiliki makna penting dan memiliki arti yang berhubungan secara langsung dengan petrogenesa batuannya. Sedikit membingungkan memang Karena mereka dapat muncul di batuan beku produk ekstrusif/hipabisal maupun batuan eksplosif. Sekilas infonya begini, secara umum gelas itu sendiri adalah “produk dari pembekuan magma yang cepat sehingga tidak mengalami kristalisasi atau biasa disebut dengan amorf (amorphous product).

Detailnya seperti berikut ini:

1.Gelas

Terminologi ini tepatnya digunakan untuk mendeskripsikan komponen gelas yang ada di batuan beku ekstrusif/hipabisal seperti andesit, dasit, basalt, atau dolerit. Gelas lebih digunakan untuk menjelaskan komponen gelas batuan ekstrusif akibat pembekuan yang cepat dari magma.

gelas sebagai massadasar

2.Gelas vulkanik

Nah kalau gelas vulkanik itu istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan komponen gelas hasil proses erupsi gunungapi, sangat terlihat jelas dari bentuknya yang lancip pada ujung ujungnya, biasa juga disebut sebagai glass shard. Itu disebabkan karena efek pembekuan magma bersama dengan sejumlah gelembung (bubble) di leher gunungapi.

glass shard

3.Obsidian

Nah kalau obsidian sebenarnya sama dengan gelas (poin 1), karena digunakan untuk istilah batuan beku ekstrusif. Namum perbedaannya terletak pada tingkat pembekuan yang ternyata jauh lebih cepat. Kok bisa, kondisi seperti apa ya? Beberapa ahli menyebutkan bahwa obsidian terbentuk karena lava yang kontak dengan air (entah masuk ke danau, ke laut, atau erupsi dalam keadaan hujan) Logis! Nah produk pembekuan ini biasanya akan didominasi oleh obsidian seutuhnya dan hanya ada sedikt kristal (Gambar 3). Tekstur yang biasa ditemui adalah magmatic flow. Bagaimana perbedaan dalam petrografi? Sulit, jujur saja perbedaannya lebih mudah diamati secara megaskopis. Namun mudahnya begini, kalau ketemu batuan yang 90% gelas amorf (bukan vulkanik) dan komponen kristalnya >10%, maka kemungkinan besar itu adalah obsidian.

obsidian

Jadi kesimpulannya, mohon untuk lebih bijak menggunakan istilah tersebut ya guys, Karena itu akan mempengaruhi interpretasi asal mula jadi dari batuan tersbut. Jangan sampe batuan beku ekstrusif tapi dideskripsi gelas vulkanik, kan jadi tidak sesuai. Demikian, semoga informasi sederhana ini bermanfaat yaa 🙂

Silahkan diskusi boleh!

Catatan Gelas dalam foto seluruhnya hadir sebagai massadasar, jadi fokus ke massadasarnya saja. Difoto dalam mode PPL (XPL view tidak akan membantu karena isotropik) dengan dimensi panjang 2 cm.

 

Teks dan foto oleh Renaldi Suhendra
Sumber gambar sampul: indeutschlandblog.wordpress.com

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0