Lapangan Gas Helium Raksasa Ditemukan di Tanzania

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Sebuah tim ahli yang berasal dari Universitas Durham, Universitas Oxford dan perusahaan eksplorasi Helium One telah menemukan sebuah lapangan gas helium kelas dunia.

tanzania
Olduvai Gorge, Great Rift Valley, Tanzania. kredit fotot: Noel Feans/ CC BY 2.0.

Helium merupakan gas yang tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna.

Helium adalah komponen penting dalam banyak bidang penelitian ilmiah dan diperlukan dalam sejumlah proses teknologi tinggi. Namun, cadangannya diketahui cepat habis.

Sampai sekarang, helium tidak pernah ditemukan secara sengaja, penemuan tanpa sengaja ditemukan dalam jumlah kecil dalam pengeboran minyak dan gas.

Saat ini, para peneliti dari Norwegia dan Inggris telah mengembangkan cara pendekatan eksplorasi yang baru. Hasilnya adalah penemuan lapangan gas helium berkelas dunia di Tanzania.

Penelitian ini telah dipresentasikan di Yokohama, Jepang pada Konferensi Geokimia Goldschmidt, menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik memberikan panas yang cukup secara intens untuk melepaskan gas dari batuan purba pembawa helium (helium bearing).

“Konsentrasi tinggi dari helium di wilayah ini kemungkinan terkait dengan pemanasan dan rekahan pada  Archean Tanzanian Craton dan Proterozoic Mozambique Belt oleh lengan yang lebih muda dari East African Rift System,”  sebut para peneliti.

“Distribusi helium konsentrasi tinggi “merembes” di sepanjang sesar-sesar aktif yang meningkatkan hubungan antara kerak dangkal dan dalam. Hal tersebut dikombinasikan oleh adanya kehadiran jebakan gas di area yang diduga akan menjadi sumberdaya helium dalam jumlah yang signifikan.”

“Kami menunjukkan bahwa gunungapi yang berada di rift memainkan peranan penting pembentukan cadangan helium tersebut,” kata pemimpin peneliti Dr. Diveena Danabalan dari Universitas Durham.

“Aktivitas vulkanik yang mungkin memberikan panas yang cukup untuk melepaskan helium yang terakumulasi di batuan kerak purba.”

Namun, jika jebakan gas berada terlalu dekat dengan gunung berapi, hal ini justru akan memberikan risiko bagi helium yang bisa mengencerkan gas-gas vulkanik seperti karbon dioksida, yang dapat kita lihat di mata air panas.”

“Kami sekarang bekerja untuk mengidentifikasi zona goldilocks antara kerak purba dan gunung api saat ini, dimana keseimbangan antara lepasnya helium dan pengenceran vulkanik harus tepat.”

“Kami mengambil sampel gas helium (dan nitrogen) yang menggelembung keluar dari tanah di Lembah Rift Afrika Timur Tanzania,” tambah salah satu peneliti Prof. Chris Ballentine dari Universitas Oxford.

“Melalui pengombinasian  pemahaman kami terhadap geokimia helium dengan tampilan seismik dari struktur-struktur jebakan gas, pakar independen telah menghitung kemungkinan adanya sumberdaya (resource) sebesar 54 miliar kaki kubik (bcf) hanya pada satu bagian dari lembah rift.

Menempatkan penemuan ini ke dalam perspektif  konsumsi global helium adalah 8 miliar kaki kubik per tahun dan Cadangan Helium Federal Amerika Serikat (U.S. Federal Helium Reserve), yang merupakan pemasok terbesar dunia memiliki cadangan terkini hanya sebesar 24,2 miliar kaki kubik.

“Total cadangan yang diketahui di Amerika Serika sekitar 153 miliar kaki kubik. Penemuan ini merupakan pengubah peta permainan (game changer) masa depan terhadap jaminan untuk keperluan helium masyarakat dan penemuan serupa di masa depan menjadi tidak jauh,” kataProf. Ballentine.

 

Diterjemahkan dari artikel asli di www.sci-news.com

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0