Penelitian Mahasiswa Indonesia: Sebuah Warning

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Penelitian Mahasiswa Aditya Pratama

 

Oleh: Aditya Pratama*

Saya membuat ulasan ini atas kepentingan dan urgensi untuk berbagi cerita dan pengalaman dalam perlombaan paper yang tempo hari saya ikuti. Terimakasih kepada Hafiz Fatah, teman seangkatan saya di Teknik Geologi UGM, atas masukannya agar saya menuangkan uneg-uneg menjadi sebuah tulisan.

Judul di atas memang adalah kenyataan yang harus kita hadapi sekarang. Negara-negara tetangga, sebut saja Malaysia dan Thailand telah menancapkan fondasi kokoh dan pesan yang sangat kuat kepada kita Mahasiswa (Geologi) Indonesia akan kompetensi dan kapasitas mereka.

Sebelumnya saya akan menceritakan bagaimana hasil dari kontes paper tersebut. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, saya diizinkan untuk membawa nama harum HMTG FT UGM dalam ISPC UGM 2015 dengan menjadi juara 1 dan best presenter dalam kontes tersebut. Banyak hal menarik dan saya pikir harus segera untuk dibagikan berkaitan dengan kontes tersebut.

Tema yang saya angkat dalam penelitian tersebut adalah satu dari kepingan puzzle skripsi S-1 saya. Saya tidak akan secara heroik menceritakan hal yang menye-menye bahwa saya adalah mahasiswa dari desa (Gunungkidul) dan lahir dari keluarga yang sederhana yang ternyata bisa lho menjadi juara! Bukan itu. Tentu cerita semacam itu sudah banyak beredar di toko buku dan saya bukan representasi terbaik. Saya mencoba menginformasikan sesuatu hal yang lebih berguna bagi pembaca sesuai kapasitas saya. Memang, semoga bisa menjadi motivasi bahwa orang desa juga bisa berprestasi, tetapi saya akan membahas hal yang lebih teknis.

Dalam kontes tersebut, bisa jadi saya adalah salah satu mahasiswa tertua (semester 9) yang mengikuti perlombaan tersebut. Menjadi hal yang cukup wajar di program studi teknik gelogi, bahwa mahasiswa semester 9 -lah yang telah memiliki penelitian dengan data primer yang baik berkaitan dengan skripsi mereka. Peserta dari mahasiswa setahun di bawah saya atau lebih muda lagi (Jurusan Teknik Geologi di Indonesia), lebih mengemukakan data-data sekunder dalam penelitiannya. Sebenarnya itu adalah hal yang juga baik, tetapi saya meyakini data primer akan lebih dihargai dan diapresiasi oleh juri.

Kembali ke negara tetangga, dua dari ‘the best 3’ kontes paper tersebut adalah mahasiswa dari University of Malaya. Saya dengan sangat hormat dan angkat topi, sangat memuji dan mengapresiasi hasil dari karya-karya mereka. Penelitian mereka berkaitan dengan fluid inclussion, microprobe, arsenopyrite thermometry dalam mineralisasi emas. “Apa kuwi???” Terdengar sangat asing di telinga sebagian besar dari kita termasuk saya. Analisis yang mungkin kita pikir hanya untuk penelitian level S2 atau bahkan S3. Tetapi mereka adalah mahasiswa S1 angkatan 2012 yang notabene adalah mahasiswa setingkat di bawah saya. Tetapi penelitian mereka, luar biasa!

Saya tidak menyimpulkannya sendiri, Dr. Lucas Donny salah satu juri, yang juga merupakan dosen Teknik Geologi UGM, habis-habisan memuji karya mahasiswa Malaysia tersebut. Beliau tidak berbicara ngawur. Keilmiahan, tata bahasa, dan sintesis data mereka sangat layak untuk masuk jurnal internasional. Ditambah lagi, penyampaian bahasa inggris dalam presentasi mereka bagus. Cas cis cus bahasa gaulnya. Native like!

Menjadi menarik untuk kita ketahui, mengapa saya yang Dr. Lucas secara jelas mengatakan paper saya secara kualitas kalah dari orang Malaysia ternyata bisa menjadi juara 1? Saya tertarik untuk menanyakan ini, sebelum akhirnya Dr. Lucas mengatakannya secara langsung sebelum saya bertanya. Data lapangan! Itulah pembedanya!

Beruntunglah kita sebagai mahasiswa geologi Indonesia memiliki kesempatan fieldtrip dan kuliah lapangan secara intens lebih dari mereka. Singkapan apapun tersedia di sekitar kita. Ambil contoh di Jogja misalnya. Hampir seluruh bentang alam, ada di daerah ini, kecuali satu yaitu bentang alam glasial.

Kerja lapangan inilah ternyata yang menjadi pembeda dan menjadi hal yang paling diapresiasi oleh juri yang notabene adalah representasi dari ahli geologi tambang di Indonesia (akademisi, industri, dan MGEI). Bagaimana data primer di lapangan diolah secara komprehensif dan ilmiah kemudian ditampilkan dalam visualisasi peta yang komunikatif. Lalu disintesiskan untuk menghasilkan kesimpulan data yang relevan dengan industri. Ini yang ternyata mereka cari di kompetisi dan itu adalah kelebihan kita. Hasil analisis laboratorium mereka luar biasa tetapi kita mendominasi hasil lapangannya.

Oleh karena itu, saya simpulkan bahwa “Ayoo saatnya kita berbenah!”. Negara tetangga sudah begitu pesat perkembangannya. Keilmiahan penelitian mereka luar biasa, peralatan laboratorium mereka sangat memadai, lingkungan kampus mereka memungkinkan untuk berbicara Inggris lebih bagus. Apa kita masih mau leyeh-leyeh? Masyarakat Ekonomi ASEAN sudah di depan mata! Tetapi jangan berkecil hati, kita harus berbangga dan terus untuk meningkatkan yang menjadi kelebihan kita. LAPANGAN! Karena Geologi ya lapangan dan tentunya tulis hasil lapanganmu menjadi karya ilmiah yang baik.

Semoga coret-coretan ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. Relevansi dalam penelitian mungkin tidak sepenuhnya benar dalam segala penelitian. Mungkin kita perlu membatasi ke dalam penelitian mahasiswa S-1 yang berkaitan dengan mine geology dan hardrock geology. Tetapi ada pesan kuat bahwa kita sudah selayaknya berbenah.

Geologi??? Sampai Mati!!!

*Penulis adalah mahasiswa Teknik Geologi UGM. peraih gelar paper terbaik pada International Student Paper Contest di UGM, 17 Oktober 2015

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0