Mengenal Van Bemmelen, Penulis Buku The Geology of Indonesia

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

 

Bemmelen

 

Reinout Willem van Bemmelen merupakan ahli geologi berkebangsaan Belanda yang sudah tidak asing di kalangan geolog Indonesia. Namanya begitu tenar karena bukunya yang sangat monumental yang berjudul “The Geology of Indonesia” merupakan rujukan primer bagi geolog Indonesia yang mempelajari geologi regional Indonesia. Nama van Bemmelen bahkan hampir selalu menghiasi halaman daftar pustaka baik skripsi, tesis maupun disertasi mahasiswa geologi serta publikasi ilmiah lainnya.

Terciptanya buku “The Geology of Indonesia” tidak terlepas dari kegiatan industrialisasi Belanda di Indonesia yang mencapai kulminasinya di abad akhir ke-19 hingga awal abad ke-20. Belanda menyadari betul potensi kekayaan sumberdaya alam yang melimpah di bumi nusantara harus dieksplorasi dan dieksploitasi untuk sebesar-besarnya kemakmuran bangsa mereka. Era industrialisasi yang meningkat di Indonesia tersebut juga merupakan imbas dari tingginya gairah industri di Eropa yang membutuhkan bahan baku berharga tinggi seperti teh, kopi, dan kina serta bahan mineral tambang seperti minyak bumi dan batubara. Untuk itulah, pemetaan tanah dan geologi (agrogeologi) dilakukan.

Pada masa tersebut, van Bemmelen terlibat dalam penelitian geologi. Dikarenakan memang van Bemmelen memiliki background yang kuat di bidang ini. Selepas menyelesaikan pendidikan HBS di Haarlem, Belanda, van Bemmelen memilih melanjutkan pendidikan yang telah diidamkan sejak kecil ketika diajak ayahnya yang juga merupakan seorang peneliti di Hindia Belanda pada waktu itu ke puncak Gunung Tangkuban Perahu yang dengan takjub ia menanyakan kepada ayahnya “Mengapa batuan di kawah gunung tersebut bisa berbeda-beda?”. Kemudian ayahnya menjawab “Ya, berbeda karena di dalam perut gunung ini batu-batuan itu digodok. Disitulah terbentuk bermacam-macam batuan” jawab ayahnya sederhana. Rein begitu panggilan akrab van Bemmelen di masa kecil hanya bisa mengangguk-angguk tanda mengerti. Namun, jawaban yang disampaikan ayahnya tersebut menimbulkan rasa tidak puas dalam hatinya.

Bagi Rein kecil yang berumur 8 tahun, cerita tersebut sangat mengagumkan. Lanjut ayahnya, orang Romawi kuno percaya bahwa yang ada di dalam perut gunung api ada Dewa Vulkan yang merupakan Dewa Perang yang tak hentinya membuat senjata. Besi untuk membuat senjata itu ditempa di dalam tungku yang panas. Karena itulah ilmu yang mempelajari gunung api disebut vulkanologi. “Ayah, bolehkan aku kalau besar nanti menjadi vulkanoloog?” Tanya Rein dengan semangat. Mendengar pertanyaan tersebut ayahnya tersentak. Namun, sebagai jawabannya, ia hanya tersenyum.

Pada saat itu di Belanda hanya kampus T.H. Delft atau sekolah tinggi Delft  yang tersedia program studi geologi yang bernaung di bawah departemen pertambangan. Di dunia kampus, van Bemmelen dikenal cerdas dan berbakat, maka dalam waktu singkat ia diminta menjadi asisten profesornya. Adapun topik yang diambil van Bemmelen untuk disertasinya adalah studi tentang pelipatan di Pegunungan Betis yang berada di Provinsi Granada, Spanyol.

Sebagai seorang geolog van Bemmelen, kemampuan lapangannya sangat mumpuni bahkan dalam mengerjakan disertasinya tersebut dia mampu untuk duduk berjam-jam di atas punggungan sebuah bukit untuk membuat sketsa lipatan dan pola struktur di pegunungan Betis yang dapat diamati dengan jelas. Semua sketsa tersebut melengkapi diagram-diagram blok yang memperlihatkan pola struktur dalam tiga dimensi. Keunggulan van Bemmelen dalam membuat sketsa tersebut merupakan kelebihannya yang ditampilkan dalam setiap publikasi buku maupun jurnal yang ditulisnya.

Pada hari Rabu tanggal 5 Juli tahun 1927 di hadapan Komisi Penguji yang terdiri dari 3 orang, yaitu H.A. Brouwer dan G.A.F. Molengraff sebagai promoter dan Zeilman van Emmichoven. van Bemmelen berhasil mempertahankan dali-dalilnya dan dinyatakan lulus dengan predikat summa cum laude dan berhak menyandang gelar Doktor dalam Ilmu Pengetahuan Teknik. Selang tiga bulan sebelumnya, ia berhasil pula lulus dari ujian sarjana bidang ilmu pertambangan pada kampus yang sama. Gelar yang disandangnya adalah insinyur tambang (mijn engineer) juga dengan predikat cum laude. Sehingga, lengkaplah ia menyelesaikan tingkatan pendidikannya sehingga menjadi Dr. Ir. Reinout Willem van Bemmelen.

Buku “The Geology of Indonesia” yang begitu akrab di telinga geolog Indonesia memiliki nilai bukan hanya sebagai penjabaran saintifik mengenai kondisi geologi Indonesia namun juga memiliki memiliki kisah perjuangan dan pengorbanan yang menarik untuk diceritakan dari sisi humanistic. Buku ini disusun atas tugas yang diberikan G.J. Wally yang saat itu menjabat sebagai Kepala Jawatan Pertambangan setelah menerima laporan bahwa naskah geologi Indonesia yang dibuat telah hilang.

Hilangnya naskah tersebut cukup kontroversial karena naskah tersebut ditulis dalam dua bahasa bahasa Jerman dan Inggris. Naskah berbahasa Jerman hilang akibat bombardir Jerman di Belanda, sementara yang berbahasa Inggris dititipkan kepada orang pribumi yaitu Mantri Kepala Djatikusumo yang akhirnya ia menolak mengembalikan naskah tersebut di saat sekutu berhasil menguasai medan pertempuran dari Jepang. Untuk itu, van Bemmelen diminta menyusun kembali naskah geologi Indonesia itu sekaligus memperingati 100 tahun penyelidikan geologi di Indonesia yang jatuh pada 1949. Ia diminta menyelesaikan buku tersebut dalam waktu 3 tahun dimulai dari tahun 1947.

Sisi humanistic pada penyusunan buku “The Geology of Indonesia” terlihat pada pengorbanan sang istri, Lucie, yang selalu sabar memberikan semangat dan dorongan yang luar biasa. Ketika segala pikiran van Bemmelen tercurahkan untuk menyelesaikan tugas tersebut membuat hampir-hampir lupa pada apa yang ada di sekitarnya, termasuk istrinya Lucie yang ikut diuji ketabahan dan keuletannya. Memang selama ini Lucie memahami betul bagaimana cara kerja suaminya dalam melakukan pengerjaaan naskah ilmiah bahkan sebelumnya ia pun ikut untuk membantu mengetik tulisan publikasi suaminya. Namun, kesibukan kali ini sungguh berbeda dari sebelumnya. Van Bemmelen seolah tenggelam di antara tumpukan lembar-lembar kertas dan peta-peta. Sungguh bukan perkara yang mudah bagi seorang istri membiarkan kondisi tersebut berlangsung selama tiga tahun lamanya.

Bahkan saking sibuknya akibat dikejar waktu tenggat penerbitan naskah “The Geology of Indonesia”, van Bemmelen tahan tidak keluar kamar dan berkutat di antara tumpukan kertas yang telah menenggalamkan dirinya. Ia mulai bekerja mulai dari pagi yang masih gelap gulita hingga tengah malam. Tentunya konsentrasi dan fokus tinggi itu membutuhkan ketahanan fisik yang luar biasa. Untuk makannya sehari-hari diantar ke kamar kerjanya dan makanan mungkin hanya lewat begitu saja di kerongkongannya seolah tidak mau membuang-buang waktu.

Begitu besarnya pengorbanan Lucie yang walaupun tidak mendapatkan perhatian sama sekali, namun ia dengan penuh pengabdian membantu pekerjaan suaminya. Dan, memang pengorbanan yang diberikan Lucie tersebut disadari betul oleh van Bemmelen yang mempersembahkan buku tersebut kepada istri tercintanya. Terbukti, ketika buku setebal sekitar 1000 halaman tersebut terbit, dipersembahkannya kepada istrinya. Pada lembar yang putih bersih di halaman keenam, di sudut kanan bawah tertulis dengan huruf capital: TO MY WIFE. Bukan kepada yang lain buku tersebut dipersembahkan melainkan kepada istrinya. Betapa besar cinta van Bemmelen pada istrinya tersebut.

Buku “The Geology of Indonesia” terdiri atas tiga volume yaitu Volume I yang terbagi dua menjadi menjadi volume IA dan Volume IB dan Volume II. Volume IA berupa buku dengan tebal 732 halaman + xxiii, 378 gambar dan 124 tabel, sedangkan Volume IB adalah berkas gambar dan peta yang dilipat dan dikemas dalam bentuk kotak.Sebanyak 41 plate ukuran besar terdapat dalam kotak itu. Volume IA diberi subjudul Geologi Umum dan Volume IB disebut Portfolio. Volume II terdiri dari 267 halaman + vii, 52 gambar, dan 52 tabel. Volume ini diberi subjudul Geologi Ekonomi sehingga membahas lokasi mineral dan potensinya. Selain itu disampaikan pula statistik produksi dari berbagai mineral yang sudah dieksploitasi.

Hasil karya publikasi tersebut semakin memperkokoh nama van Bemmelen di kalangan geosaintis kaliber internasional. Puncaknya ketika ia memperoleh pengukuhan guru besarnya pada 1961 pada usia 57 tahun dari kampus ia mengajar Universitas Utrecht. Penetapan guru besar ini pun agak sedikit membingungkan sebab ia diangkat sebagai guru besar bidang Geologi Ekonomi bukan dan di bidang Tektonika dimana di bidang itu tema-tema publikasinya. Jika ditelisik pun van Bemmelen sedikit atau hampir dikatakan tidak pernah meneliti secara intens berkaitan dengan Geologi Ekonomi, namun posisi sebagai guru besar Geologi Ekonomilah yang tersedia kala itu. Tentu sistem penetapan guru besar di Belanda berbeda dengan di Amerika ataupun Indonesia yang didasarkan pada prestasi bukan ketersediannya kursi.

Pengangkatannya sebagai seorang guru besar menambah kesibukan bagi van Bemmelen selain menulis publikasi ilmiah. Sesudah menyelesaikan buku “The Geology of Indonesia”, ia bersiap dengan publikasi selanjutnya. Sebuah buku setebal 177 halaman dengan judul “Mountain Building” yang terbit tahun 1954. Kemudian, menghasilkan lagi buku berjudul “Geodynamic Model” pada tahun 1972 yang diterbitkan oleh Elsevier. Tulisan dalam berbagai bentuk publikasi di berbagai jurnal ilmiah masih terus mengalir, di antaranya dalam Geologie & Mijnbouw (1952, 1956, 1966),Bull. Geol. Soc. Belgium (1955), Geol. Rundschau (1960), Mitt. Geol. Ges. Wien.(1962, 1964), dan Tectonophysics (1964). Sehingga, tidak kurang dari 200 publikasi ilmiah telah ditulisnya dan mengantarnya menuai penghargaan demi penghargaan sebagai pengakuan atas prestasi keilmuannya.

Pada tahun 1964 Free University of Brussel menyematkan Bintang Kehormatan. Pada tahun 1968 Akademi Ilmu Pengetahuan Chekoslowakia menganugerahkan medali. Pada tahun 1970 Perhimpunan Geologi dan Pertambangan Kerajaan Belanda menganugerahkan Medali “Van Waterschoot van der Gracht”. Pada tahun 1977 Perhimpunan Geologi London menganugerahkan Medali Wollaston. Tidak ketinggalan dari dunia universitas. Pada tahun 1977 Universitas Uppsala di Swedia menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa. Van Bemmelen juga sejak tahun 1972 adalah anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Italia dan Anggota Geologi Wina, Austria.

Namun, manis pahit yang dialami oleh van Bemmelen ditutup dengan kesedihan di peghujung usia dikarena istrinya yang melakukan euthanasia akibat kepasrahannya pada penyakit yang menggerogoti dirinya akibat penderitaan yang dialami semasa di kamp interniran ketika Jepang mengambilalih kekuasaan dari Belanda atas Hindia Belanda. Kemudian, selang 8 bulan van Bemmelen pun menyusul Lucie yang telah lebih dahulu berpulang. Pada tanggal 19 November 1983, dunia ilmu pengetahuan harus rela melepas ilmuwan geologi terbaiknya yang memiliki dedikasi dan cinta luar biasa terhadap ilmu geologi.

Itulah sedikit kisah perjuangan, pengabdian serta ketahanan hidup yang ditunjukkan van Bemmelen akan kecintaannya pada geologi yang telah mengimpresinya sejak masih kecil ketika ia diajak ayah untuk ikut turut berjalan-jalan ke kawah Gunung Tangkuban Parahu. Dan semoga nilai-nilai kebaikan yang telah ditunjukkan dan dibuktikannya dapat diikuti oleh geolog Indonesia demi mengelola potensi alam yang luar biasa yang dimiliki bangsa Indonesia. (/bed-gp)

 

Referensi:

*Sudradjat, Adjat. 2014. Van Bemmelen, Kisah di Balik Ketenarannya. Bandung: Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral.

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0