Letusan Rinjani dan Riwayat Kedahsyatan yang Mengguncang Dunia

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Rinjani

Awal bulan ini kita dikejutkan oleh kabar meletusnya Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Letusan ini ramai diperbincangkan karena menyebabkan terganggunya penerbangan, terutama di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali dan sekitarnya. Tercatat setidaknya 6.000 calon penumpang terlantar karena pesawat batal terbang menghindari ancaman bahaya abu erupsi Rinjani.

Di media sosial, muncul tren yang memperdebatkan kejadian ini. Topik debat ini dipicu oleh pemahaman mengenai nama gunung yang meletus, apakah itu Rinjani, Barujari, atau Samalas?

Dilansir dalam Liputan6, Kepala Badan Geologi Kementrian ESDM Soerono menjelaskan bahwa Rinjani dahulu bernama Samalas, meletus besar pada abad ke-13 dan membentuk satu kaldera raksasa yang sekarang dikenal dengan nama Segara Anak. Pasca letusan tersebut, magma di bawah permukaan masih aktif membuka jalan untuk keluar dan terbentuklah kerucut Gunung Barujari sebagai pusat erupsi yang baru.

Gunung Barujari masih merupakan bagian dari kaldera Gunung Rinjani. Lokasinya terdapat di sebelah timur Segara Anak dengan ketinggian sekitar 300 m dari dasar danau dan masih terus tumbuh hingga sekarang. Hal yang sama dapat dijumpai di Gunung Krakatau yang kemudian melahirkan Gunung Anak Krakatau paska erupsi, atau Kaldera Tengger dengan Gunung Bromonya.

Meski membawa dampak yang besar berupa kekacauan yang terjadi dalam lalu lintas udara, letusan kali ini termasuk berskala minor dalam catatan erupsi Gunung Rinjani. Dengan tinggi kolom erupsi yang mencapai 4,5 km, erupsi saat ini berarti memiliki nilai VEI 2 (Volcanic Explosivity Index), jauh lebih mungil dari skala erupsi pada saat pembentukan Kaldera Rinjani yang menghasilkan letusan dengan VEI 7.

Peristiwa yang ditengarai terjadi pada tahun 1257 itu baru-baru ini telah dikonfirmasi sebagai letusan yang bertanggungjawab pada perubahan iklim dunia yang mendadak mengalami pendinginan secara global. Clive Oppenheimer dari Cambridge University, UK, dan Franck Lavigne, dari Pantheon-Sorbonne University, Prancis, menelusuri jejak letusan dari abu vulkanik yang terawetkan dalam es beku di Arktik maupun di Antartika.

Sempat muncul hipotesis bahwa  letusan itu juga mungkin berasal dari Gunung Okatania di Selandia Baru dan El Chicon di Meksiko. Namun Penanggalan radioaktif tidak menunjukkan kesesuaian mengenai waktu terjadinya peristiwa.

Dampak destruktif dalam skala luas terjadi setelah Rinjani memuntahkan material vulkanik sebanyak lebih dari 40.000 meter kubik dan abu serta bebatuan terlontar ke udara hingga setinggi 40 km lebih. Catatan dari zaman pertengahan menyebutkan bahwa Eropa dilanda cuaca ekstrim yang sangat dingin. Hujan turun setiap hari mengakibatkan banjir. Pertanian gagal panen dan menyebabkan langkanya ketersediaan pangan. Jumlah kematian yang terjadi akibat keadaan ini sangat besar. Sebuah penelitian arkeologi menyimpulkan bahwa kerangka manusia yang ditemukan di kuburan massal London terpendam sejak tahun 1258.

Dari manuskrip lokal, Babad Lombok yang ditulis dalam Bahasa Jawa Kawi menyebutkan bahwa terjadi letusan gunungapi yang membentuk kaldera di Gunung Samalas dan membenamkan Kerajaan Lombok dalam timbunan abu.

Jika dibandingkan dengan letusan gunungapi lainnya, para pakar memperkirakan letusan ini lebih besar dari Krakatau pada tahun 1883, dan setara dengan Tambora, yang meletus pada 1815.

Sampai saat ini, Kaldera Rinjani sudah mencatatkan 18 kali letusan namun dengan kekuatan yang masih jauh di bawah erupsi 1257. Letusan kali ini memiliki karakteristik ukuran abu yang sangat halus akibat fragmentasi sempurna pada material vulkaniknya sehingga dapat diterbangkan angin ke tempat yang jauh dan mempengaruhi kondisi udara dalam skala yang relatif luas.

 

Disarikan dari Forbes, Liputan6, BBC, National Geographic.

BagikanShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0